Saturday, May 1, 2021







Jual bibit Nata De Coco dan Konsultasi Produksi Nata De Coco

087731375234 



Di masa pandemic seperti ini, kondisi ekonomi masyarakat kita banyak yang terpuruk akibat PHK bagi karyawan, dan pasar yang  semakin merosot tajam bagi pelaku usaha. Hal ini menjadi semakin merosotnya daya beli masyarakat kita. Namun, hendaklah kita tetap optimis, masih banyak yang bisa kita lakukan diantarana memulai wirausaha secara kecil-kecilan dengan modal yang pas-pasan dan alat yang relative sederhana. Diantara peluang usaha yang cukup prospektif dan modalnya tidak terlalu besar adalah bisnis nata de coco-yaitu dengan memanfaatkan limbah air kelapa menjadi produk bernilai ekonomis.

Di Indonesia, nata de coco biasa disebut sari kelapa dan mulai dikenalkan pada tahun 1973 dan populer di pasaran pada tahun 1981. Nata de coco pertama kali berasal dari Filipina. Kata nata berasal dari bahasa Spanyol yang berarti krim, sedangkan dalam bahasa Latin disebut natare berarti terapung.  Di pasaran, telah banyak beredar produk nata de coco disajikan dalam kemasan gelas plastik dicampur sirop dengan aneka rasa. Selain itu, nata de coco biasanya juga menjadi campuran minuman cocktail. Di Indonesia, produk nata de coco amat digemari karena rasanya yang nikmat menyegarkan dan menyehatkan juga karena kandungan seratnya yang tinggi dan rendah kalori. 

Produk minuman siap saji nata de coco memiliki pangsa pasar yang besar dan persaingan yang cukup ketat. Permintaan produk nata de coco cukup tinggi disebabkan produk ini memiliki cita rasa yang nikmat dan kaya serat sehingga baik untuk kesehatan serta cocok bagi konsumen yang sedang melakukan diet. Karena itu, nata de coco memiliki pangsa pasar yang luas baik dalam negeri maupun luar negeri, dari anak-anak sampai orang dewasa. Nata de coco saat ini sudah semakin familier digunakan untuk berbagai makanan kecil antara lain puding, cocktail, manisan, es campur, dan lain-lain. Di pasar domestik, permintaan nata de coco biasanya meningkat tajam pada saat menjelang hari raya Lebaran, Tahun Baru, Natal, dan acara-acara penting lainnya. Banyaknya permintaan pada waktu-waktu tersebut menyebabkan banyak rumah tangga yang membuat usaha musiman nata de coco. Di bulan puasa, di kota-kota seluruh Indonesia banyak para pedagang kolak, es buah, cocktail, yang menggunakan bahan nata sebagai bahan campuran.

Permintaan produk minuman nata de coco meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan bahan baku nata de coco. Kebutuhan bahan baku nata de coco oleh industri besar mendorong para petani nata de coco meningkatkan produksinya. Hal ini juga berpengaruh meningkatnya kebutuhan bahan baku air kelapa. Permintaan industri minuman nata de coco masih terbilang tinggi dan sebagian belum terpenuh.Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nata, industri minuman banyak bermitra dengan petani nata de coco.



          Bibit Nata De Coco


Bagi yang tertarik wirausaha nata de coco bisa hubungi 087731375234, bisa konsultasi.

Selamat berwirausaha...!

Peluang Bisnis Oncom Merah-Makanan Khas Indonesia

  


 


 

 

 

 

 

 

 


 

Jual Ragi Oncom Merah

087731375234

 

 

Siapa yang tidak kenal oncom?. Makanan khas Indoneisa yang satu ini cukup unik dan cita rasanya pun juga khas. Oncom awalnya lebih populer di Jawa Barat. Kini oncom kian populer. Berbagai aneka olahan oncom  menjadi menu yang khas yang seringkali membuat kita rindu untuk menikmatinya disaat kita berada di suatu temat yang jauh. Kini, aneka olahan oncom menjadi semakin popular di Indonesia, bahkan di negara lain pun sudah mulai tertarik untuk produksi oncom seperti di Hongkong, Taiwan, USA, Jepang, Australia, dan lain-lain. Umumnya produsen oncom di luar negeri adalah para warga negara Indonesia yang sudah menetap di luar negeri. Beberapa olahan oncom antara lain; keripik oncom, oseng-oseng lenca-oncom, pepes oncom, dan aneka masakan lainya. Di Indonesia dikenal oncom merah dan oncom hitam. Oncom merah merupakan produk hasil fermentasi dengan menggunakan kapang Neurospora sitophila atau N. intermedia sedangkan oncom hitam berasal dari jenis kapang tempe Rhizopus oligosporus dan atau jenis-jenis Mucor. Namun, pada umumnya oncom merah lebih popular dan lebih diminati oleh masyarakat karena cita rasa dan aromanya lebih nikmat. Seiring berkembangnya peminat oncom merah, maka menjadi peluang yang sangat menjanjikan untuk memproduksi oncom merah maupun produk olahannya.

Oncom merah umumnya dibuat dari ampas tahu, yaitu kedelai yang telah diambil proteinnya dalam pembuatan tahu, sedangkan oncom hitam umumnya dibuat dari bungkil kacang tanah yang kadangkala dicampur ampas (onggok) singkong atau tepung singkong (tapioka), agar mempunyai tekstur yang lebih baik dan lebih lunak. Bungkil kacang tanah adalah ampas yang berasal dari kacang tanah yang telah diambil minyaknya dengan proses pemerasan mekanis atau proses ekstraksi. Walaupun kedua bahan substrat tersebut berupa limbah, kandungan gizinya sesungguhnya masih cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan manusia.

            Kapang oncom mengeluarkan enzim amilase, lipase dan protease yang aktif selama proses fermentasi dan memegang peranan penting dalam penguraian pati menjadi gula, penguraian bahan-bahan dinding sel kacang, penguraian lemak, serta pembentukan sedikit alkohol dan berbagai ester yang memunculkan aroma sedap dan harum. Protein juga terdegradasi namun tidak penuh dan berakibat meningkatnya daya cerna.

Proses pembuatan oncom dari bungkil kacang tanah, pertama-tama direndam dalam air bersih selama 3-4 jam, setelah itu ditiriskan, diayak, dan kemudian dicampur dengan tepung tapioka. Selanjutnya, campuran ini dikukus. Setelah masak, adonan diratakan di atas tatakan dari bambu, dan ditaburi dengan ragi setelah dingin. Inkubasi dilakukan setelah ditutup dengan daun pisang bersih dalam suhu ruang yang hangat (25-30 °C) dan kelembaban tinggi, selama 2 sampai 3 hari. Oncom juga bias dibuat dengan menggunakan ampas tahu. Caranya adalah langkah pertama ampas tahu yang masih basah dicuci terlebih dahulu, kemudian diperas dengan menggunakan kain saring, kemudian dikukus hingga tanak, kemudian ditiriskan hingga dingin kurang lebih 5 menit, kemudian dipress dengan alat cetakan dari kayu dengan ukurang menyesuaikan, letakan di wadah berupa nampan plastik atau bamboo,setelah itu ditaburi ragi oncom merah, letakan di rak-rak, dan sebaiknya ditutup dengan kertas yang bersih agar pertumbuhan lebih optimal dan mengurangi kontaminasi jamur lain.

Oncom memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan dapat menjadi sumber alternatif pemenuhan gizi masyarakat karena harganya yang murah. Kandungan karbohidrat dan protein tercerna cukup tinggi pada oncom dari bungkil kacang tanah. Selain itu, populasi kapang diketahui dapat menekan produksi aflatoksin dari Aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa, dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang (terutama N. sitophila).Hal ini baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.

            Selamat berwirausaha, semoga sukses dan berkah….

 

 

 

Saturday, December 5, 2020

Mengenal Jenis Tanaman Gaharu Gyrinops versteegii

 










Jual Inokulan Fusarium solani

087731375234


Salah satu jenis tanaman penghasil gaharu adalah jenis gyrinops versteegii. Menurut betrianigrum (2009 cit.Gilg 1932) taksanomi gaharu jenis grynops versteegii. Gilg sebagai berikut :

Kingdom       : Plantea

Devisi            :Spermatophya 

Sub-Devisi    :Dicotyledone 

Sub Class      :Magnoliopsida 

Family           : Thymelaeaceae

Genus            :Grynops 

Species          :Gyrinops versteegii 

 

Morfologi gaharu jenis gyrinops versteegii. Gilg ini merupakan salah satu jenis tanaman penghasil gaharu yang mempunyai bentuk pohon ciri dan sifat morfologinya hampir sama dengan kelompok anggota familythymeleaecea lainnya, hal ini dilihat dari bentuk daun, buah dan batangnya. Gaharu jenis gyrinops memiliki batang yang lonjong memanjang, hijau tua, tepi daun merata, ujung meruncing, panjang sekitar 8 cm lebar 5-6 cm. Buah berwarna kuning-kemerahan dengan bentuk lonjong. Batang gaharu jenis gyrinops berwarna abu kecoklatan, banyak cabang, tinggi pohon dapat mencapai 30 m dan berdiameter sekitar 50 cm (Sumarna,2012).

Di indonesia sebaran tumbuh pohon penghasil gaharu dijumpai di wilayah hutan Jawa, Sumatera, Sulawesi,  Maluku, Irian Jaya dan Nusa Tenggara. Pohon penghasil gaharu dapat tumbuh ketinggian 0-2.400 mdpl, selain itu iklim yang cocok untuk pertumbuhan gaharu yaitu pada daerah yang beriklim panas dengansuhu antara 28 C-34  C, dengan kelembaban sekitar 80% dan bercurah hujan antara 1.000-2.000 mm/th. 

Lahan tempat tumbuh pada berbagai variasi kondisi srtuktur dan tekstur tanah, baik pada lahansubur, sedang hingga lahan margijal. Gaharu dapat dijumpai pasa ekosisitem hutan rawa, gambut, hutan daratan rendah atau hutan pegunungan, bahkan dijumpai pada lahan berpasir berbatu yang ekstrim (Sumarna, 2012).

Hampir semua bagian tanaman gaharu bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi, daun dan buahnya digunakan sebagia bahan baku pengganti teh yang berkhasiat sebagai obat malaria. Selain itu, pohon gaharu juga berfungsi sebagai kenservasi tanah dan air karena memiliki tajuk yang rapat dan sistem perakaran yang dalam.

 

Wednesday, October 28, 2020

Peluang Bisnis Budidaya Tanaman Penghasil Gaharu




 

Jual Fusarium solani serbuk - Inokulan Gaharu

087731375234


GAHARU adalah merupakan komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Hampir semua bagian pohon penghasil gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk. Beberapa tanaman penghasil gaharu antara lain adalah ; Aquilaria apiculina, Aquilaria baillonii, Aquilaria baneonsis, Aquilaria beccarain, Aquilaria brachyantha, Aquilaria crassna Aquilaria cumingiana, Aquilaria filaria, Aquilaria grandiflora, Aquilaria hilata, Aquilaria khasiana, Aquilaria malaccensis, Aquilaria microcarpa, Aquilaria rostrata, Aquilaria sinensis, Aquilaria subintegra. Proses pembentukan gaharu pada tanaman penghasil gaharu dapat terjadi secara alami atau melalui proses penyuntikan inokulan penginveksi yang disunttikan ke dalam batang tanaman yang dibor terlebih dahalu.

 Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah pun masih memiliki nilai jual yang menarik. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu.Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri.

Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.

Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya.Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman.Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China.Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.

Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu yang cukup besar, namun saat ini potensinya menurun, bahkan gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan.Beberapa jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan kualitas terbaik (harga tinggi).Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur (teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat mendapatkan gubal gaharu (inokulasi).Tanpa mengetahui kedua masalah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil gaharu yang memuaskan.Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat menghasilkan gubal gaharu.Sehingga secara alami pohon gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu.Ayo lestarikan hutan Indonesia demi generasi mendatang.

Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).Setelah Penyulingan Harga Minyak Gaharu Bisa Mencapai Sekitar USD 5,000 ~ USD 10,000/kg dan Setelah Dibuat Menjadi Cairan Extract Harganya Mampu Mencapai Lebih Dari USD 30,000 atau Rp. 300.000.000,- / Liter.

Manfaat Agarwood

1.      Aktivitas Kebudayaan - Islam, Budha, Hindu

2.      Perayaan Keagamaan - Kebanyakan di Negara Islam dan Arab

3.      Wangi Parfum - Wanginya Tahan Lama Banyak Diminati di Negara Eropa Seperti Daerah Yves Saint Laurent, Zeenat dan Amourage

4.      Aroma Terapi - Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan

5.      Kecantikan - Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak

6.      Obat & Kesehatan - Biasa Digunakan di Pengobatan Tradisional Khususnya Dinegara China dan Jepang

7.      Koleksi Pribadi - Untuk Ruangan Besar Khusus Eksklusif

 

Kebutuhan Agarwood Dunia

Kebutuhan dunia akan agarwood atau gaharu terus meningkat. Menurut statistik, Indonesia yang pada tahun 1995 menjadi pengexport gaharu yang cukup besar, kini nilai exportnya semakin menurun.Mengingat permintaan dunia akan agarwood yang terus meningkat, maka proyek Pengembangan Agarwood sangat menguntungkan "Investment for Highest Profit"

 

Penanganan Bibit Gaharu Cabutan/Stump

Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump (pengiriman dari tempat lain) :

Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan.Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun.Ikuti petunjuk teknis pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan.Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic.Media tanam sebaiknya merupakan campuran: tanah : kompos : pasir (2:1:1)

Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam terlihat kering.Dalam penyiraman tersebut dihindari membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki selang/lobang kecil.Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan lama.Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lagi jerami/ pelepah daun kelapa/sawit.Periksa jika terjadi kebocoran pada sungkup.Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian.

Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap, dilarang membuka sungkup sekaligus.Contoh : hari pertama dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika dibuka sekaligus bibit beresiko kematian.Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.

MEMPERCEPAT PRODUKSI GAHARU DENGAN TEKNOLOGI INOKULASI



Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan gaharu sangat bervariasi dari bahan baku pembuatan dupa, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, hingga bahan obat-obatan sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf, dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan dan perdagangan yang masih mengandalkan alam, beberapa jenis tertentu pohon penghasil gaharu mulai langka dan telah masuk dalam appendix II CITES.Mengantisipasi kemungkinan pubahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari.Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.

Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya.Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis.Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat.Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan.Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga), dan Banten (Carita).

Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan.Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 per kilogram.

 

Kriteria Kualitas Gaharu

Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan.Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu.Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.

 


Peluang Bisnis Oncom Merah

 



 


Jual Ragi Oncom Merah

087731375234

 

Oncom adalah salah satu produk makanan tradisional yang sudah sangat popular di Indonesia. Oncom sangat digemari oleh banyak kalangan karena rasanya yang khas dan nikmat. Berbagai olahan oncom antara lain adalah; keripik oncom, oseng-oseng lenca - oncom, pepes oncom, dan aneka masakan lainya. Oncom bisa menjadi produk unggulan yang sangat prospektif baik pasar local maupun manca negara. Saat ini, para pelaku usaha sudah mulai melirik bisnis oncom yang masih belum banyak pemainnya. Umumnya para produsen oncom ada di Jawa khususnya Jawa Barat. Saat ini pun, orang luar negeri mulai tertarik berbisnis oncom di negara nya sebagaimana produk tempe sudah populer di manca negara dan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan untuk industri mikro dan menengah.

Di Indonesia dikenal oncom merah dan oncom hitam. Oncom merah merupakan produk hasil fermentasi dengan menggunakan kapang Neurospora sitophila atau N. intermedia sedangkan oncom hitam berasal dari jenis kapang tempe Rhizopus oligosporus dan atau jenis-jenis Mucor. Namun, pada umumnya oncom merah lebih popular dan lebih diminati oleh masyarakat karena cita rasa dan aromanya lebih nikmat. Seiring berkembangnya peminat oncom merah, maka menjadi peluang yang sangat menjanjikan untuk memproduksi oncom merah maupun produk olahannya.

Oncom merah umumnya dibuat dari ampas tahu, yaitu kedelai yang telah diambil proteinnya dalam pembuatan tahu, sedangkan oncom hitam umumnya dibuat dari bungkil kacang tanah yang kadangkala dicampur ampas (onggok) singkong atau tepung singkong (tapioka), agar mempunyai tekstur yang lebih baik dan lebih lunak. Bungkil kacang tanah adalah ampas yang berasal dari kacang tanah yang telah diambil minyaknya dengan proses pemerasan mekanis atau proses ekstraksi. Walaupun kedua bahan substrat tersebut berupa limbah, kandungan gizinya sesungguhnya masih cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan manusia.

 

Kapang oncom mengeluarkan enzim amilase, lipase dan protease yang aktif selama proses fermentasi dan memegang peranan penting dalam penguraian pati menjadi gula, penguraian bahan-bahan dinding sel kacang, penguraian lemak, serta pembentukan sedikit alkohol dan berbagai ester yang memunculkan aroma sedap dan harum. Protein juga terdegradasi namun tidak penuh dan berakibat meningkatnya daya cerna.

 

Proses pembuatan oncom dari bungkil kacang tanah, pertama-tama direndam dalam air bersih selama 3-4 jam, setelah itu ditiriskan, diayak, dan kemudian dicampur dengan tepung tapioka. Selanjutnya, campuran ini dikukus. Setelah masak, adonan diratakan di atas tatakan dari bambu, dan ditaburi dengan ragi setelah dingin. Inkubasi dilakukan setelah ditutup dengan daun pisang bersih dalam suhu ruang yang hangat (25-30 °C) dan kelembaban tinggi, selama 2 sampai 3 hari.

Oncom memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan dapat menjadi sumber alternatif pemenuhan gizi masyarakat karena harganya yang murah. Kandungan karbohidrat dan protein tercerna cukup tinggi pada oncom dari bungkil kacang tanah. Selain itu, populasi kapang diketahui dapat menekan produksi aflatoksin dari Aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa, dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang (terutama N. sitophila).Hal ini baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.

 

 

 

 

Saturday, August 29, 2020

Membuat Olahan Oncom




 

Jual Ragi Oncom

087731375234


Resep Tumis Oncom Leunca

            Tumis oncom leunca merupakan salah satu menu masakan yang sangat banyak diminati banyak kalangan. Rasanya yang nikmat dan aromanya khas oncom menjadi sangat spesial untuk makan siang ataupun makan malam dan Indonesia banget. Oncom merupakan olahan dari ampas tahu atau bungkil kacang yang difermentasi dengan ragi oncom merah (Neurospora sithopilla) atau ragi oncom hitam ( Rizophus oligosporus atau Rizhomucor) kurang lebih 3 hari sehingga dihasilkan oncom yang punya cita rasa dan aroma yang khas. Sedangkan Leunca adalah salah satu terong-terongan berbentuk bulat kecil biasa dimakan untuk lalaban atau masakan oseng. Kombinasi oncom dan leunca dimasak tumik menjadi salah satu menu masakan yang sangat gurih dan nikmat ngangenin. Berikut ini cara membuat masakan tumis oncom leunca:

 

Bahan:

1.      Siapkan leunca 300 gram, kemudian cuci bersih

2.      Siapakan oncom 250 gr oncom, kemudian potong-potong, goreng dan ulek

3.      2 batang daun bawang, iris serong

4.      Daun kemangi secukupnya

5.      1 buah tomat, potong dadu

 

Bumbu:

1.      3 lembar daun salam

2.      Garam secukupnya

3.      Gula merah secukpnya

4.      Mrica secukupnya

5.      Kecap secukpnya

6.      Laos sekupnya iris tipis-tipis

7.      Penyedap masakan non MSG

8.      5 siung bawang merah

9.      3 siung sawang putih

10.  3 cm kencur

11.  1 sdt terasi, goring

12.  3 buah cabe rawit

 

Cara membuat:

1. Tumis bumbu halus sampai harum.

2. Masukkan tomat dan daun salam. Masak sampai tomat matang.

3. Masukkan oncom dan air, aduk rata. Masak sampai air meresap.

4. Masukkan leunca, garam, dan gula. Aduk rata.

5. Terakhir, masukkan kemangi dan daun bawang. Aduk rata sebentar. Angkat.

6. Tumis Oncom Leunca siap disajikan.




Ragi Oncom


Monday, August 24, 2020

Pengembangan Sektor Perikanan Berbasis Bioteknologi

 


 


            Sekstor perikanan adalah salah satu sektor ekonomi yang yang sangat potensial untuk dikembangkan. Permintaan komoditas ikan yang cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun menyebabkan semakin meningkatnya industri perikanan di Indonesia. Indonesia memiliki wilayah laut yang luas dan perairan daratan yang potensial untuk dikembangkan sebagai industrperikanan sangat menjanjikan. Pasar lokal maupun pasar ekspor komoditas perikanan masih terbuka cukup lebar. Kegiatan budidaya ikan secara intensif mulai berkembang di Indonesia seiring dengan meningkatnya permintaan

Produksi ikan nasional berasal dari ikan tangkap dan hasil budidaya. Budidaya ikan air tawar yang sedang popular seperti nila, patin, mujair, lele,kerapu, gabus, guramih, dan lain-lain. Saat ini juga sedang digalakan tambak-tambak udang di tepi pantai atau perairan darat, jenis udang yang banyak dibudidauyakan adalah jenis udang vannamei, galah, dan lobster.

Penerapan sistem budidaya intensif dan ramah lingkungan sangat diperlukan guna meningkatkan produksi.  Tingginya angka kematian dan rendahanya konversi pakan (FCR) menyebabkan menurunya produksifitas. Tingginya angka kematian seringkali disebabkan oleh faktor cuaca atau penyakit. Faktor cuaca yang ekstrim seperti hujan yang terus menerus dan suhu yang dingin seringkali menjadi penyebab kegagalan panen pada budidaya udang vannamei. Selain itu, faktor penyebabkan kematian juga dapat disebabkan oleh racun amoniak dan nitrit hasil sisa pakan dan juga limbah berbahaya yang mencemari lingkungan. Untuk menekan angka kematian, para pelaku usaha budidaya perikanan umumnya menggunakan bahan obat-obatan kimia. Penggunaan obat-obatan kimia memang mampu secara efektif menekan berkembangnya penyakit, namun disisi lain efek negatifnya adalah residu bahan kimia pada kimia dapat menjadi masalah kesehatan bagi manusia. Di beberapa negara maju sudah mulai mensyaratkan komoditi ikan yang masuk ke negaranya harus bebas residu kimia. Oleh karena itu pentingnya para pembudidaya perikanan di Indonesia untuk menerapkan best aquaculture practices dalam sertifikasi produk akuakultur yang diekspor, mensyaratkan praktek akuakultur yang ramah lingkungan.

Perkembangan teknologi akuakultur saat ini perlu memfokuskan pada upaya budidaya perikanan yang ramah lingkungan. Saat ini para pembudidaya sudah mulai memanfaatkan mikroba probiotik untuk menekan bakteri pathogen dan memperbaiki kondisi lingkungan air (bioremediasi). Penggunaan probiotik untuk sektor perikanan cukup efektif untuk menekan tingkat kematian dan meningkatkan produksi. Beberapa jenis mikroba mampu meningkatkan konversi pakan (FCR) seperti golongan Lactobacillus. Beberapa jenis mikroba juga mampu menetralisir racun amoniak dan nitrit sisa pakan yang dapat membunuh ikan, beberapa jenis mikroba jenis ini antara lain adalah Nitrobacter, Nitrosomonas, dll. Amoniak (NH3) merupakan hasil dari katabolisme protein dalam tubuh organisme akuatik yang tidak terionisasi melalui insang. Amoniak mengandung unsure Nitrogen dan Hidrogen. Nitrogen dalam sistem akuakultur terutama berasal dari pakan buatan yang biasanya mengandung protein dengan kisaran 13 - 60% (2 - 10% N) tergantung pada kebutuhan dan stadia organisme yang dikultur (Avnimeleeh & Ritvo, 2003; Gross & Boyd 2000; Stickney, 2005). Dari total protein yang masuk ke dalam sistem budidaya, sebagian akan dikonsumsi oleh organisme budidaya dan sisanya terbuang ke dalam air. Protein dalam pakan akan dicerna namun hanya 20 - 30% dari total nitrogen dalam pakan dimanfaatkan menjadi biomasa ikan (Brune et al., 2003).

Beberapa jenis mikroba mampu merombak limbah menjadi bioflock yang dapat menjadi sumber pakan ikan. Penelitian dan penerapan Biofloc adalah sejak tahun 1941 pada pengolahan air limbah di Amerika, untuk mensubtitusi penggunaan plankton.  Bioflok atau Flok merupakan istilah bahasa slang dari istilah bahasa baku “Activated Sludge” (“Lumpur Aktif”) yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater treatment). Salah satu ciri khas bakteri pembentuk bioflocs adalah kemampuannya untuk mensintesa senyawa Poli hidroksi alkanoat ( PHA ), terutama yang spesifik seperti poli βhidroksi butirat. Senyawa ini diperlukan sebagai bahan polimer untuk pembentukan ikatan polimer antara substansi substansi pembentuk bioflocs.  Bioflocs terdiri atas partikel serat organik yang kaya akan selulosa, partikel anorganik berupa kristal garam kalsium karbonat hidrat, biopolymer (PHA), bakteri, protozoa, detritus (dead body cell), ragi, jamur dan zooplankton. Bakteri yang mampu membentuk bioflocs diantaranya:  Zooglea ramigera,  Escherichia intermedia,  Paracolobacterium aerogenoids, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Flavobacterium, Pseudomonas alcaligenes, Sphaerotillus natans, Tetrad dan Tricoda

         Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengatasi masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pcngolahan limbah domestik secara konvensional (Avnimelech, 2006; de Schryver et al., 2008). Prinsip utama yang diterapkan dalam teknologi ini adalah manajemen kualitas air yang didasarkan pada kemampuan bakteri heterotrof untuk memanfaatkan N organik dan anorganik yang terdapat di dalam air. Secara teoritis, pemanfaatan N oleh bakteri heterotrof dalam sistem akuakultur disajikan dalam reaksi kimia berikut (Ebeling et al., 2006):

Secara teoritis untuk mengkonversi setiap gram N dalam bentuk ammonia, diperlukan 6,07 g karbon organik dalam bentuk karbohidrat, 0,86 karbon anorganik dalam bentuk alkalinitas dan 4,71 g oksigen terlarut. Dari persamaan ini juga diperoleh bahwa rasio C/N yang diperlukan oleh bakteri heterotrof adalah sekitar 6.

Kemampuan bioflok dalam mengontrol konsentrasi ammonia dalam sistem akuakultur secara teoritis maupun aplikasi telah terbukti sangat tinggi. Secara teoritis Ebeling et al. (2006) dan Mara (2004) menyatakan bahwa immobilisasi ammonia oleh bakteri heterotrof 40 kali lebih cepat daripada oleh bakteri nitrifikasi. Secara aplikasi de Schryver et al. (2009) menemukan bahwa bioflok yang ditumbuhkan dalam bioreaktor dapat mengkonversi N dengan konsentrasi 110 mg NH4/L hingga 98% dalam sehari. Kondisi yang mendukung pembentukan Bioflocs; Aerasi dan pengadukan (pergerakan air oleh aerator), Karbon dioksida (CO2)

a.        Aerasi dan pengadukan (pergerakan air oleh aerator)

Oksigen jelas diperlukan untuk pengoksidasian bahan organik (COD/BOD), kondisi optimum sekitar 45 ppm oksigen terlarut. Pergerakan air harus sedemikian rupa, sehingga daerah mati arus (death zone) tidak terlalu luas, hingga daerah yang memungkinkan bioflocs jatuh dan mengendap relatif kecil.

b.         Karbon dioksida (CO2)

Karbon dioksida menjadi salah satu kunci terpenting bagi pembentukan dan pemeliharaan bioflocs. Bakteri gram negatif non pathogen seperti bakteri pengoksidasi sulfide menjadi sulfat ( Thiobacillus, photosynthetic bacteria seperti Rhodobacter), bakteri pengoksidasi besi dan Mangan ( Thiothrix ) dan bakteri pengoksidasi ammonium dan ammonia ( Nitrosomonas dan Nitrobacter ) memerlukan karbon dioksida untuk pembentukan selnya, mereka tidak mampu mengambil sumber karbon dari bahan organic semisal karbohidrat, protein atau lemak. Termasuk juga Zooglea, Flavobacterium, tetrad/tricoda dan bakteri pembentuk bioflocs lainnya. Bahkan Bacillus sendiri, sebagai pemanfaat karbon dari bahan organik dan menghasilkan gas karbon dioksida sebagai hasil oksidasinya, memerlukan karbondioksida dalam pernafasan anaerobnya ketika melangsungkan reaksi denitrifikasi.

 

Jual Aneka Isolat Mikroba

Telp.087731375234

A

Absidia corymbifera FNCC

Aspergillus terreus FNCC

Acetobacter aceti FNCC

Atopobium vaginae ATCC BAA-55

Acetobacter xylinum FNCC

Aspergillus versicolor FNCC

Achomobachter xylosoxidans subsp. Xylosoxidans ATCC 27061

Aspergillus wentii FNCC

Acinetobacter baumanni ATCC 19606

Aureobasidium pullulans FNCC

Acinetobacter baumanni ATCC BAA-747

B

Acinetobacter Iwoffii ATCC 17925

Bacillus amyloliquefaciens FNCC

Acinetobacter sp. ATCC 49137

Bacillus amylolyticus FNCC

Acinetobacter sp. ATCC 49139

Bacillus badius ATCC 14574

Acinetobacter sp. ATCC 49466

Bacillus cereus ATCC 11778

Acinetobacter sp. ATCC 9957

Bacillus cereus ATCC 14579

Actinomyces odontolyticus ATCC 17929

Bacillus cereus FNCC

Actinomyces viscosus ATCC 15987

Bacillus coagulans FNCC

Actinomyces viscosus ATCC 43146

Bacillus circulans ATCC 61

Aerococcus viridans ATCC 11563

Bacillus licheniformis ATCC 12759

Aerococcus viridans ATCC 700406

Bacillus macerans Schardinger FNCC

Aeromonas caviae ATCC 15468

Bacillus megaterium  ATCC 14581

Aeromonas hydrophila ATCC 35654

Bacillus megaterium FNCC

Aeromonas hydrophila ATCC 49140

Bacillus polymyxa FNCC

Aeromonas hydrophila ATCC 7965

Bacillus pumilus ATCC BAA-1434

Aeromonas hydrophila ATCC 7966

Bacillus stearothermophilus ATCC 10149

Aeromonas salmonicida ATCC 33658

Bacillus stearothermophillus FNCC

Aeromonas veronii biogroup sobria ATCC 9071

Bacillus subtilis ATCC 6633

Aggregatibacter aphrophilus ATCC 33389

Bacillus subtilis FNCC

Agrobacterium tumefaciens FNCC

Bacteroides fragilis ATCC 23745

Alcaligenes faecalis ATCC 35655

Bacteroides fragilis ATCC 25285

Alcaligenes faecalis subsp. Faecalis ATCC 8750

Bacteroides ovatus ATCC 8483

Alcaligenes xylosoxydans subsp. denitrificans FNCC

Bacteroides ovatus ATCC BAA-1296

Alternaria alternata FNCC

Bacteroides ovatus ATCC BAA-1304

Alternaria alternata TX 8025

Bacteroides thetaiotaomicron ATCC 29741

Aneurinibacillus aneurinolyticus ATCC 11376

Bacteroides uniformis ATCC 8492

Arcanobacterium pyogenes ATCC 19411

Bacteroides ureolyticus ATCC 33387

Arcanobacterium pyogenes ATCC 49698

Bacteroides vulgatus ATCC 8482

Aspergillus awamori FNCC

Bifidobacterium breve ATCC 15700

Aspergillus brasiliensis ATCC 16404

Bordetella brochiseptica ATCC 10580

Aspergillus brasiliensis ATCC 9642

Bordetella brochiseptica ATCC 4617

Aspergillus candidus FNCC

Bordetella pertussis ATCC 12742

Aspergillus flavipes FNCC

Bordetella pertussis ATCC 9340

Aspergillus flavus FNCC

Brevibacterium flavum FNCC

Aspergillus fumigatus FNCC

Brevibacterium lipolyticum FNCC

Aspergillus fumigatus KM 8001

Brevibscillus agri ATCC 51663

Aspergillus japonicus FNCC

Brevibscillus laterosporus ATCC 64

Aspergillus niger FNCC

Brevundimonas diminuta ATCC 11568

Aspergillus niveus FNCC

Brevundimonas diminuta ATCC 19146

Aspergillus ochraceus FNCC

Brochothrix thermosphacta ATCC 11509

Aspergillus orzaye ATCC 10124

Burkholderia cepacia ATCC 17765

Aspergillus oryzae FNCC

Burkholderia cepacia ATCC 25416

Aspergillus parasiticus FNCC

Burkholderia cepacia ATCC 25608

Aspergillus punicius FNCC

C

Aspergillus restrictus FNCC

Campylobacter coli ATCC 33559

Aspergillus sojae FNCC

Campylobacter coli ATCC 43478

Aspergillus tamarii FNCC

Campylobacter jejuni  ATCC 29428

Campylobacter jejuni subsp. Jejuni ATCC 33291

Clostridium histolyticum ATCC 19401

Campylobacter jejuni subsp. Jejuni ATCC 33292

Clostridium novyi ATCC 7659

Candida albicans ATCC 10231

Clostridium novyi Type A ATCC 19402

Candida albicans ATCC 14053

Clostridium septicum ATCC 12464

Candida albicans ATCC 2091

Clostridium sordellii ATCC 9714

Candida albicans ATCC 36232

Clostridium sporogenes ATCC 11437

Candida albicans ATCC 60193

Clostridium sporogenes ATCC 19404

Candida albicans ATCC 66027

Clostridium sporogenes ATCC 3584

Candida albicans ATCC 90028

Clostridium tertium ATCC 19405

Candida curvata FNCC

Corynebacterium diphtheriae ATCC 13812

Candida dubliniensis ATCC MYA-577

Corynebacterium glutanicum FNCC

Candida geochares ATCC 36852

Corynebacterium hoagii FNCC

Candida glabrata ATCC 15126

Corynebacterium jeikeium ATCC 43734

Candida glabrata ATCC 2001

Corynebacterium minutissimum ATCC 23348

Candida glabrata ATCC 66032

Corynebacterium pseudodiphhtheriticum ATCC 10700

Candida glabrata ATCC MYA-2950

Corynebacterium pseudodiphhtheriticum ATCC 10701

Candida guiliermondii ATCC 6260

Corynebacterium renale ATCC 19412

Candida kefyr ATCC 204093

Corynebacterium renale ATCC BAA-1785

Candida kefyr ATCC 2512

Corynebacterium striatum ATCC BAA-1293

Candida kefyr ATCC 66028

Corynebacterium urealyticum ATCC 43044

Candida kefyr FNCC

Corynebacterium xerosis ATCC 373

Candida krusei ATCC 14243

Cronobacter muytjensii ATCC 51329

Candida krusei ATCC 34135

Cryptococcus albidus ATCC 66030

Candida krusei FNCC

Cryptococcus albidus var. Albidus ATCC 10666

Candida lipolytica FNCC

Cryptococcus albidus var. Albidus ATCC 34140

Candida lusitaniae ATCC 34449

Cryptococcus curvatus FNCC

Candida lusitaniae ATCC 42720

Cryptococcus humicolus ATCC 9949

Candida lusitaniae ATCC 66035

Cryptococcus laurentii ATCC 18803

Candida norvegensis FNCC

Cryptococcus laurentii ATCC 66036

Candida parapsilosis ATCC 22019

Cryptococcus laurentii ATCC 76483

Candida parapsilosis ATCC 34136

Cryptococcus neoformans ATCC 14116

Candida parapsilosis ATCC 90018

Cryptococcus neoformans ATCC 204092

Candida tropicalis ATCC 1369

Cryptococcus neoformans ATCC 32045

Candida tropicalis ATCC 201380

Cryptococcus neoformans ATCC 34877

Candida tropicalis ATCC 66029

Cryptococcus neoformans ATCC 56991

Candida tropicalis ATCC 750

Cryptococcus neoformans ATCC 66031

Candida tropicalis FNCC

Cryptococcus neoformans ATCC 76484

Candida utilis ATCC 9950

Cryptococcus uniguttulatus ATCC 66033

Candida utilis FNCC

Curtobacterium pusillum ATCC 19096

Candida wicherhamii FNCC

Curvularia lunata FNCC

Cellulosimicrobium cellulans ATCC 27402

Curvularia sp. KM 8023

Chlamydomucor oryzae FNCC

D

Citrobacter braakii ATCC 10625

Debaryomyces hansenii FNCC

Citrobacter diversus KM 11012

Debaryomyces polymorphus FNCC

Citrobacter freundii ATCC 8090

E

Cladosporium cladosporioides FNCC

Edwardsiella tarda ATCC 15947

Clostridium acetobutylicum FNCC

Eggerthella lenta ATCC 43055

Clostridium barati ATCC 27638

Eikenella corrodens ATCC 23834

Clostridium difficile ATCC 43255

Eikenella corrodens ATCC BAA-1152

Clostridium difficile ATCC 700057

Elizabethkingia meningoseptica ATCC 13253

Clostridium difficile ATCC 9689

Enterobacter aerogenes ATCC 13048

Clostridium difficile ATCC BAA-1870

Enterobacter aerogenes ATCC 35028

Enterobacter aerogenes ATCC 35029

Fusarium longipes FNCC

Enterobacter aerogenes ATCC 49071

Fusarium moniliforme FNCC

Enterobacter cloacae ATCC 13047

Fusarium semitectum FNCC

Enterobacter cloacae ATCC 23355

Fusarium solani FNCC

Enterobacter cloacae ATCC 35030

Fusobacterium mortiferum ATCC 25557

Enterobacter gergoviae ATCC 33028

Fusobacterium mortiferum ATCC 9817

Enterobacter hormaechei ATCC 700323

Fusobacterium necrophorum ATCC 25286

Enterococcus avium ATCC 14025

Fusobacterium nucleatumum ATCC 10953

Enterococcus casseliflavus ATCC 700327

Fusobacterium nucleatumum subsp. Nucleatum ATCC 25586

Enterococcus durans ATCC 11576

Fusobacterium oxysporum ATCC 48112

Enterococcus durans ATCC 49135

G

Enterococcus durans ATCC 49479

Gardnerella vaginalis ATCC 14018

Enterococcus durans ATCC 6056

Gardnerella vaginalis ATCC 49145

Enterococcus faecalis ATCC 19433

Gemella morbillorum ATCC 27824

Enterococcus faecalis ATCC 29212

Geobacillus stearothermophilus ATCC 10149

Enterococcus faecalis ATCC 49149

Geobacillus stearothermophilus ATCC 12978

Enterococcus faecalis ATCC 49452

Geobacillus stearothermophilus ATCC 12980

Enterococcus faecalis ATCC 51299

Geobacillus stearothermophilus ATCC 7953

Enterococcus faecalis ATCC 7080

Geomyces pannorum FNCC

Enterococcus faecalis ATCC 35667

Geotrichum candidum ATCC 34614

Enterococcus faecalis ATCC 51559

Geotrichum candidum ATCC 10663

Enterococcus faecalis ATCC 700221

Geotrichum candidum ATCC 28576

Enterococcus gallinarum ATCC 700425

Geotricum candidum FNCC

Enterococcus hirae ATCC 8043

Gordona rubropertinctus FNCC

Enterococcus raffinosus ATCC 49464

Gordona terrae FNCC

Enterococcus saccharolyticus ATCC 43076

H

Epidermophyton floccosum ATCC 52066

Haemophilus aphrophilus ATCC 19415

Erysipelothrix rhusiopathiae ATCC 19414

Haemophilus haemoglobinophilus ATCC 19416

Escherichia coli ATCC 10536

Haemophilus haemolyticus ATCC 33390

Escherichia coli ATCC 11229

Haemophilus influenzae ATCC 33930

Escherichia coli ATCC 11775

Haemophilus influenzae ATCC 35056

Escherichia coli ATCC 12014

Haemophilus influenzae ATCC 35540

Escherichia coli ATCC 13706

Haemophilus influenzae ATCC 49144

Escherichia coli ATCC 25992

Haemophilus influenzae ATCC 49247

Escherichia coli ATCC 29194

Haemophilus influenzae ATCC 49766

Escherichia coli ATCC 35218

Haemophilus influenzae ATCC 19418

Escherichia coli ATCC 35421

Haemophilus influenzae NCTC 8468

Escherichia coli ATCC 4157

Haemophilus influenzae Type a ATCC 9006

Escherichia coli ATCC 51446

Haemophilus influenzae Type b ATCC 10211

Escherichia coli ATCC 51755

Haemophilus influenzae Type b ATCC 33533

Escherichia coli ATCC 8739

Haemophilus influenzae Type c ATCC 9007

Esherichia coli FNCC

Haemophilus parahaemolyticus ATCC 10014

Eurotium amstelodami FNCC

Haemophilus parainfluenzae ATCC 7901

Eurotium chevalieri FNCC

Haemophilus paraphrophilus ATCC 49146

Eurotium rubrum FNCC

Haemophilus paraphrophilus ATCC 49917

Exiguobacterium aurantiacum ATCC 49676

I

Exophiala jeanselmei ATCC 10224

Issatchenkia orientalis ATCC 6258

F

K

Finegoldia magna ATCC 29328

Klebsiella pneumoniae C6

Fluoribacter bozemanae ATCC 33217

Klebsiella oxytoca ATCC 13182

Fluoribacter dumoffii ATCC 33279

Klebsiella oxytoca ATCC 43086

Fonsecaesa pedrosoi ATCC 28174

Klebsiella oxytoca ATCC 49131

Klebsiella oxytoca ATCC 700324

Listeria monocytogenes ATCC 7644

Klebsiella oxytoca ATCC 8724

Listeria monocytogenes ATCC 7646

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 10031

Listeria monocytogenes ATCC BAA-751

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 13882

Lysinibacillus sphaericus ATCC 4525

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 13883

M

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 27736

Malassezia furfur ATCC 14521

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 33495

Malassezia furfur ST 8036

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 35657

Microbacterium liquefaciens ATCC BAA-1819

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 700603

Microbacterium paraoxydans ATCC BAA-1818

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC 9997

Microbacterium testaceum ATCC 15829

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC BAA 1705

Micrococcus luteus ATCC 10240

Klebsiella pneumoniae subsp. Pneumoniae ATCC BAA 1706

Micrococcus luteus ATCC 4698

Kloeckera apiculata var. Apis ATCC 32857

Micrococcus luteus ATCC 49732

Kloeckera japonica ATCC 58370

Micrococcus lylae ATCC 27566

Kluyveromyces lactis FNCC

Micrococcus sp. ATCC 700405

Kluyveromyces marxianus FNCC

Microsporum canis ATCC 11621

Kluyveromyces thermotolerans FNCC

Monascus purpureus FNCC

Kockovaella thailandica FNCC

Moraxella catarrhalis ATCC 23246

Kocuria kristiane ATCC BAA-752

Moraxella catarrhalis ATCC 25238

Kocuria rhizophila ATCC 533

Moraxella catarrhalis ATCC 25240

Kocuria rhizophila ATCC 9341

Moraxella catarrhalis ATCC 49143

Kocuria rosea ATCC 186

Moraxella catarrhalis ATCC 8176

L

Moraxella osloensis ATCC 10973

Lactobacillus acidophilus ATCC 314

Moraxella osloensis ATCC 19976

Lactobacillus acidophilus ATCC 4356

Morganella morganii FNCC

Lactobacillus acidophillus FNCC

Morganella morganii subsp. morganii ATCC 25830

Lactobacillus brevis ATCC 8287

Mucor plumbeus FNCC

Lactobacillus brevis FNCC

Mucor racemosus FNCC

Lactobacillus bulgaricus FNCC

Myroides odoratus ATCC 4651

Lactobacillus casei ATCC 393

N

Lactobacillus casei FNCC

Neisseria gonorrhoeae ATCC 19424

Lactobacillus delbrueckii subsp. lactis ATCC 12315

Neisseria gonorrhoeae ATCC 31426

Lactobacillus delbrueckii subsp. delbrueckii FNCC

Neisseria gonorrhoeae ATCC 35541

Lactobacillus fermentum FNCC

Neisseria gonorrhoeae ATCC 43070

Lactobacillus gasseri ATCC 19992

Neisseria gonorrhoeae ATCC 49226

Lactobacillus paracasei subsp. paracasei ATCC BAA-52

Neisseria gonorrhoeae ATCC 49926

Lactobacillus plantarum ATCC 8014

Neisseria gonorrhoeae ATCC 49981

Lactobacillus plantarum FNCC

Neisseria gonorrhoeae ATCC 43069

Lactobacillus rhamnosus (Lactobacillus casei subsp. rhamnosus) FNCC

Neisseria lactamica ATCC 23970

Lactobacillus murinus FNCC

Neisseria lactamica ATCC 23971

Lactococcus lactis subsp. lactis FNCC

Neisseria lactamica ATCC 49142

Leclercia adecarboxylata ATCC 23216

Neisseria meningtidis serogroup C ATCC 13102

Leclercia adecarboxylata ATCC 700325

Neisseria meningtidis serogroup A ATCC 13077

Legionella pneumophila ATCC 33823

Neisseria meningtidis serogroup B ATCC 13090

Legionella pneumophila ATCC 33152

Neisseria meningtidis serogroup Y ATCC 35561

Leuconostoc mesenteroides ATCC 8293

Neisseria mucosa ATCC 19695

Leuconostoc mesenteroides subsp. mesenteroides FNCC

Neisseria perflava ATCC 14799

Lipomyces starkeyi FNCC

Neisseria sicca ATCC 29256

Listeria grayi ATCC 25401

Neisseria sicca ATCC 9913

Listeria innocua ATCC 33090

Neurospora sitophila FNCC

Listeria innocua VC 32293

Nigrospora oryzae FNCC

Nitrobacter winogradskyi FNCC

Propionibacterium acidiproprionici ATCC 25562

Nitrosomonas europaea FNCC

Propionibacterium acnes ATCC 11827

Nocardia asteroides CL 11014

Propionibacterium acnes ATCC 6919

Nocardia asteroides FNCC

Propionibacterium propionicus FNCC

Nocardia brasiliensis ATCC 19296

Proteus hauseri ATCC 13315

Nocardia brasiliensis ATCC 19297

Proteus mirabilis ATCC 12453

Nocardia erythropolis FNCC

Proteus mirabilis ATCC 25933

Nocardia farcinica ATCC 3308

Proteus mirabilis ATCC 29245

Nocardia farcinica FNCC

Proteus mirabilis ATCC 29906

O

Proteus mirabilis ATCC 35659

Ochrobactrum anthropi ATCC 49187

Proteus mirabilis ATCC 43071

Ochrobactrum anthropi ATCC 49687

Proteus mirabilis ATCC 7002

Ochrobactrum anthropi ATCC BAA-749

Proteus vulgaris ATCC 49132

Oligella ureolytica ATCC 43534

Proteus vulgaris ATCC 6380

Oligella urethralis ATCC 17960

Proteus vulgaris ATCC 8427

P

Prototheca wickerhamii ATCC 16529

Paenibacillus gordonae ATCC 29948

Providencia alcalifaciens ATCC 51902

Paenibacillus macerans ATCC 8509

Providencia stuartii ATCC 33672

Paenibacillus polymyxa ATCC 43865

Providencia stuartii ATCC 49809

Paenibacillus polymyxa ATCC 7070

Provotella melaninogenica ATCC 25845

Paenibacillus polymyxa ATCC 842

Pseudomonas aeruginosa ATCC 10145

Parabacteroides distasonis ATCC 8503

Pseudomonas aeruginosa ATCC 15442

Parabacteroides distasonis ATCC BAA-1295

Pseudomonas aeruginosa ATCC 17934

Parvimonas micra ATCC 33270

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

Pasteurella aerogenes ATCC 27883

Pseudomonas aeruginosa ATCC 35032

Pasteurella multocida subsp. multocida ATCC 43137

Pseudomonas aeruginosa ATCC 35422

Pediococcus acidilactici FNCC

Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027

Pediococcus halophilus FNCC

Pseudomonas aeruginosa ATCC 9721

Pediococcus pentosaceus ATCC 33314

Pseudomonas aeruginosa ATCC BAA-1744

Pediococcus pentosaceus FNCC

Pseudomonas aeruginosa FNCC

Penicillium brasilianum FNCC

Pseudomonas cepacia FNCC

Penicillium cammembertii FNCC

Pseudomonas fluorescens ATCC 13525

Penicillium candidum FNCC

Pseudomonas fluorescens FNCC

Penicillium chrysogenum ATCC 10106

Pseudomonas putida ATCC 49128

Penicillium citrinum FNCC

Pseudomonas putida FNCC

Penicillium crustosum FNCC

Pseudomonas stutzeri ATCC 17588

Penicillium funiculosum FNCC

R

Penicillium glabrum FNCC

Ralstonia pickettii ATCC 49129

Penicillium oxalicum FNCC

Rhizomucor miehei FNCC

Penicillium pinophilum FNCC

Rhizomucor pusillus FNCC

Penicillium purpurogenum FNCC

Rhizopus microsporus FNCC

Penicillium roqueforti FNCC

Rhizopus oligosporus FNCC

Peptoniphilus asaccharolyticus ATCC 29743

Rhizopus oryzae FNCC

Peptostreptococcus anaerobius ATCC 27337

Rhizopus stolonifer ATCC 14037

Phialophora verrucosa ATCC 28181

Rhodococcus equi ATCC 6939

Pichia burtonii FNCC

Rhodococcus equi FNCC

Pichia guilliermondii FNCC

Rhodococcus erythropolis FNCC

Pichia ohmeri FNCC

Rhodococcus fascians FNCC

Plesiomonas shigelloides ATCC 14029

Rhodococcus rhodochrous FNCC

Plesiomonas shigelloides ATCC 51903

Rhodosporidium toruloides FNCC

Porphyromonas gingivalis ATCC 33277

Rhodotorula glutinis ATCC 32765

Porphyromonas levii ATCC 29147

Rhodotorula glutinis FNCC

S

Sphingobacterium multivorum ATCC 35656

Saccharomyces bayanus FNCC

Sphingobacterium spiritivorum ATCC 33861

Saccharomyces caribergensis FNCC

Sphingomonas paucimobilis FNCC

Saccharomyces cerevisiae ATCC 4098

Sporidiobolus salmonicolor ATCC MYA-4550

Saccharomyces cerevisiae ATCC 9763

Sporothrix schenckii ATCC 10212

Saccharomyces cerevisiae FNCC

Staphylococcus aureus ATCC 29737

Saccharomyces diastaticus FNCC

Staphylococcus aureus ATCC 35548

Saccharomyces kluyvery FNCC

Staphylococcus aureus ATCC 9144

Saccharomyces pastorianus FNCC

Staphylococcus aureus ATCC BAA-1026

Saccharomyces uvarum FNCC

Staphylococcus aureus ATCC BAA-1708

Saccharomycopsis fibuligera FNCC

Staphylococcus aureus FNCC

Salmonella choleraesuis subsp. choleraesuis FNCC

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 35661

Salmonella enterica serovar Typhimurium ATCC 13311

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 12600

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Anatum ATCC 9270

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 25178

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Choleraesuis ATCC 10708

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 25904

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Enteritidis ATCC 13076

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 33592

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Montevideo ATCC 8387

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 49444

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Newport ATCC 6962

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 49476

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Paratyphi A ATCC 11511

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 51153

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Paratyphi B ATCC 8759

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 6538P

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Typhi ATCC 6539

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 6538

Salmonella enterica subsp. enterica serovar Typhimurium ATCC 14028

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC BAA-976

Salmonella enterica sv Poona NCTC 4840

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC BAA-977

Salmonella FNCC

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 25923

Salmonella sp. Not Typhi group D BF-SD

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 29213

Salmonella sp. Serovar Abony NCTC 6017

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 29247

Salmonella tranoroa NCTC 10252

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 33591

Salmonella typhimurium FNCC

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 33862

Schizosaccharomyces pombe FNCC

Staphylococcus aureus subsp. aureus ATCC 43300

Scopulariopsis acremonium ATCC 58636

Staphylococcus epidermis ATCC 12228

Serovar typhimurium FNCC

Staphylococcus epidermis ATCC 14990

Serratia liquefaciens ATCC 27592

Staphylococcus epidermis ATCC 29887

Serratia marcescens ATCC 13880

Staphylococcus epidermis ATCC 49134

Serratia marcescens ATCC 14756

Staphylococcus epidermis ATCC 49461

Serratia marcescens ATCC 8100

Staphylococcus epidermis ATCC 700296

Serratia odorifera ATCC 33077

Staphylococcus epidermis FNCC

Shewanella putrefaciens ATCC 49138

Staphylococcus haemolyticus ATCC 29970

Shewanella putrefaciens ATCC 8071

Staphylococcus hominis ATCC 27844

Shigella sonei group D ATCC 11060

Staphylococcus lentus ATCC 700403

Shigella sonei group D ATCC 25931

Staphylococcus lugdunensis ATCC 700328

Shigella sonei group D ATCC 9290

Staphylococcus rafinolactis FNCC

Shigella boydii serovar 1 group C ATCC 9207

Staphylococcus saprophyticus ATCC 15305

Shigella dysenteriae group A ATCC 13313

Staphylococcus saprophyticus ATCC 35552

Shigella flexneri serovar 2b group B ATCC 12022

Staphylococcus saprophyticus ATCC 43867

Staphylococcus saprophyticus ATCC 49453

Streptococcus pneumoniae ATCC 6303

Staphylococcus saprophyticus ATCC 49907

Streptococcus pneumoniae ATCC 6305

Staphylococcus saprophyticus ATCC BAA-750

Streptococcus pneumoniae CL 811

Staphylococcus sciuri subsp. sciuri ATCC 29060

Streptococcus pyogenes ATCC 19615

Staphylococcus sciuri subsp. sciuri ATCC 29061

Streptococcus pyogenes group A ATCC 12384

Staphylococcus simulans ATCC 27851

Streptococcus pyogenes group A ATCC 21547

Staphylococcus thermophillus FNCC

Streptococcus salivarius serotype II ATCC 13419

Staphylococcus xylosus ATCC 29967

Streptococcus sanguinis Type 1 ATCC 10556

Staphylococcus xylosus ATCC 29971

Streptococcus sp. Gp D ATCC 9854

Staphylococcus xylosus ATCC 35663

Streptococcus sp. group B ATCC 12401

Staphylococcus xylosus ATCC 49148

Streptococcus sp. group D ATCC 27284

Staphylococcus xylosus ATCC 700404

Streptococcus sp. Type 2 group F ATCC 12392

Stenotrophomonas maltophilia ATCC 13637

Streptococcus thermophilus ATCC 19258

Stenotrophomonas maltophilia ATCC 17666

Streptococcus uberis ATCC 700407

Stenotrophomonas maltophilia ATCC 49130

Streptococcus uberis ATCC 9927

Stenotrophomonas maltophilia ATCC 51331

Streptomyces albus ATCC 17900

Streptococcus agalactiae group B ATCC 12386

Streptomyces griseus subsp. griseus ATCC 10137

Streptococcus agalactiae group B ATCC 13813

T

Streptococcus agalactiae group B CL 810

Tatlockia micdadei ATCC 33204

Streptomyces ambofaciens FNCC

Trichophyton equinum ATCC 12544

Streptococcus bovis ATCC 33317

Trichophyton mentagrophytes ATCC 9533

Streptococcus criceti ATCC 19642

Trichophyton robrum ATCC 28188

Streptococcus dysgalactiae subsp. equisimilis group G ATCC 12394

Trichophyton tonsurans ATCC 28942

Streptococcus dysgalactiae subsp. equisimilis ATCC 35666

Trichophyton verrucosum ATCC 42898

Streptococcus dysgalactiae subsp. equisimilis ATCC 9542

Trichophyton cultaneum ATCC 28592

Streptococcus dysgalactiae subsp. equisimilis group C ATCC 43079

Trichophyton mucoides ATCC 204094

Streptococcus equi subsp. zooepidemicus group C ATCC 700400

V

Streptococcus gallolyticus ATCC 49147

Veillonella parvula ATCC 10790

Streptococcus gallolyticus ATCC 9809

Veillonella parvula ATCC 17745

Streptococcus gallolyticus subsp. gallolyticus ATCC 49475

Vibrio cholerae serotype Inaba ATCC 9459

Streptococcus mutans ATCC 25175

Vibrio parahaemolyticus ATCC 17802

Streptococcus mutans ATCC 35668

Vibrio vulnificus ATCC 27562

Streptococcus oralis ATCC 35037

Virgibacillus pantothenticus ATCC 14576

Streptococcus oralis ATCC 9811

Y

Streptococcus pasteurianus ATCC 49133

Yarrowia lipolytica ATCC 9773

Streptococcus pneumoniae ATCC 27336

Yersinia enterocolitica ATCC 23715

Streptococcus pneumoniae ATCC 49136

Yersinia enterocolitica subsp. enterocolitica ATCC 9610

Streptococcus pneumoniae ATCC 49150

Yersinia kristensenii ATCC 33639

Streptococcus pneumoniae ATCC 49619

Z

Streptococcus pneumoniae ATCC 6301

Zygosaccharomyces bailii ATCC MYA-4549

 

 

Posting Lama ►

Total Pageviews

Jual Aneka Media Mikroba Dan Jasa Uji Lab

AGROTEKNO-LAB

AGROTEKNO-LAB
Jual Aneka Jenis Mikrobia Untuk Industri Dan Penelitian

Aspergillus niger

Aspergillus niger
Untuk fermentasi pakan ternak

agrotekno77@gmail.com

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
 

Copyright © 2012. MITRA AGROBISNIS DAN AGROINDUSTRI. Telp. 087731375234 - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz