Tuesday, November 12, 2019

Sukses Berbisnis Lada






Jual Aneka Culture Mikroba Untuk Riset Dan Industri
Telp. 087731375234



Lada atau merica merupakan salah satu komoditas pertanian menjadi unggulan Indonesia.  Semenjak dahulu bangsa-bangsa Eropa sangat tertarik komoditas rempah-rempah, hal ini yang  menjadi salah satu alasan yang mendorong mereka untuk melakukan ekspedisi ke berbagai belahan dunia. Lada atau merica telah dikenal semenjak dahulu sebagai bumbu dapur yang sangat diminati banyak kalangan. Dengan cita rasa dan aroma lada yang khas masakan akan terasa menjadi lebih nikmat, sehingga lada menjadi bumbu yang sudah sangat familier dari dulu hingga sekarang di seluruh dunia. Pasar komoditas lada pun cukup luas dan harganya cukup menggiurkan. selain itu, harga jualnya juga relatif stabil sehingga membuat para petani tertarik untuk membudidayakannya.
Ada dua jenis lada yang umum dibudidayakan yaitu lada hitam dan lada putih, sebenarnya lada hitam ataupun lada putih adalah dari jenis tanaman yang sama namun yang membedakan adalah warnanya, lada dengan warna hitam karena proses panen yang lebih cepat atau merica masih tergolong muda sehingga menghasilkan lada berwarna hitam. Sedangkan untuk lada yang berwarna putih yaitu lada yang saat pemetikan dilakukan setelah buah sudah matang atau lebih tua yang menghasilkan lada berwarna putih. Namun kedua jenis lada tersebut dari jenis tanaman yang sama.
            Untuk berbisnis budidaya lada tidaklah sulit, karena tanaman lada dapat tumbuh baik hamper di seluruh wilayah Indonesia. Untuk membudidayakan tanaman lada kita perlu memahami teknik budidaya yang meliputi; pembibitan, pempupukan, perawatan, dan pemanenan. Dan kita juga mengetahui syarat tumbuh tanaman lada. Syarat tumbuh tanaman lada adalah sebagai berikut: 1). Tanah, jenis tanah yang memiliki kandungan zat hara cukup baik untuk tanaman ini. Tanah seperti Oxisol, Vertisol, Andisol dan tanah liat pasir (sandy clay) sangat cocok untuk tanaman lada; 2). Ketinggian lahan yang ideal untuk jenis tanaman lada adalah 0-500 mdpl. Jika lokasi lahan lebih tinggi, maka hasilnya tidak optimal; 3).Iklim, Lada akan tumbuh dengan baik dalam kondisi kelembaban antara 200-300 C dan curah hujan antara 2000-3000 mm per tahun.

Berikut ini adalah teknik budidaya merica/lada:
1. Pembibitan
Pembibitan tanaman lada dapat menggunakan stek cabang batang skunder dan primer atau menggunakan stek yang menyertakan sulur panjang (cabang primer). Pembibitan dan penyemaian dapat menggunakan polybag yang diisi dengan pasir, pupuk (tricokompas), tanah dan menggunakan perbandingan 1 : 3 : 7. Kemudian setelah polybag sudah terisi media tanam, kita dapat menanam bibit merica lalu gunakan plastik untuk menutupi agar tanaman merica tidak terkena hujan, kita bisa menggunakan plastik agar sinar matahari dapat masuk 70%. Untuk melindungi bibit merica agar tidak rusak karena hama/hewan kita dapat memberikan jaring di sekelilingnya selama proses pembibitan berlangsung sekitar -+ 4 bulan sampai akar tumbuh dengan baik dan sudah layak untuk dipindah. Untuk merangsang pertumbuhan akar, dapat diberikan pupuk organik pada saat penyemaian berlangsung.
2. Penanaman
Setelah bibit siap tanam, tanaman lada dapat dipindahkan ke pekarangan/tanah yang kosong, atau menggunakan pot / polybag. Setelah penyemaian berhasil bibit bisa dipindahkan ke media yang lebih besar atau polybag dengan ukran 40 x 60 cm. Untuk meningkatkan kesuburan tanah di dalam polybag, dapat diberikan pupuk kandang sebanyak ukuran polybag, 5-10kg, 500 gram kapur. Supaya tanaman merica lebih optimal,  bibit ditanam setelah 2 - 3 minggu setelah diberikan pupuk dasar, bisa lakukan pemupukan secara teratur menggunakan pupuk kandang sebanyak 5 kg per tahun.
3. Perawatan dan Pemeliharaan
Untuk menjaga agar bibit tanaman lada terjaga saat proses pertumbuhan tanaman dapat dilakukan pemeliharaan yang rutin, pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan meliputi perlindungan dan pencegahan tumbuhnya jamur pada tanaman, pengendalian penyakit dan hama.

Cabang/batang tanaman lada sangat rentan terserang jamur karena bentuknya yang rimbun, biasanya tingkat kelembabaan pada tanaman menjadi cukup tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dibuatkan para-para di sekitar tanaman/cabang tanaman. Biopestisida dan agensi hayati dapat digunakan untuk pencegahan atau pengendalian terhadap hama dan penyakit,  biopestisida yang dapat digunakan yaitu seperti tepung cengkeh, extra biji bengkoang dan extra akar tuba. Untuk pengendaliannya dapat dilakukan menggunakan agensi hayati yaitu seperti Bacteri pasteuria penetrans, Jamur beuveria bassiana, dan jamur trichoderma.

4. Hasil panen buah merica
Panen adalah masa yang ditunggu-tunggu. Pemanenan lada dilakukan pada usia tanaman sekitar 12 bulan setelah penanaman dilakukan. Agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada saat tanaman mulai berbunga dan berbuah pertama kalinya lebih baik bunga dan buah tersebut dipetik dahulu agar pertumbuhan selanjutnya lebih maksimal.

Monday, September 2, 2019

Proses Pembuatan Gula Sirup Fruktosa










Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase, Sweetzime / Isomerase, Beta Amylase
Telp. 087731375234

Gula adalah merupakan salah satu bahan yang diperlukan oleh manusia sebagai pemberi rasa manis dan juga sebagai sumber energi. Ada beberapa jenis gula yang umum dibutuhkan manusia diantaranya adalah; glukosa, sukrosa, maltose, fruktosa. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang fruktosa. Fruktosa adalah monosakarida yang ditemukan di banyak jenis tumbuh-tumbuhan, madu,bunga dan sayurang. Fruktosa  merupakan salah satu dari tiga gula darah penting bersama dengan glukosa dan galaktosa, yang bisa langsung diserap ke aliran darah selama pencernaan. Fruktosa murni rasanya sangat manis, warnanya putih, berbentuk kristal padat, dan sangat mudah larut dalam air. Fruktosa pada tanaman dapat berbentuk monosakarida atau sebagai komponen dari sukrosa. Sukrosa merupakan molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Fruktosa adalah polihidroksiketon dengan 6 atom karbon. Fruktosa merupakan isomer dari glukosa; keduanya memiliki rumus molekul yang sama (C6H12O6) namun memiliki struktur yang berbeda.
Kebutuhan gula bagi kebutuhan manusia sangat tinggi baik jenis glukosa, sukrosa maltose dan fruktosa. Beberapa penelitian menunjukan bahwa fruktosa dianggap lebih aman dikonsumsi khususnya bagi penderita diabetes 2, namun jika dikonsumsi berlebihan juga berisiko bagi kesehatan pula. Kebutuhan gula fruktosa yang semakin meningkat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Proses untuk menghasilkan fruktosa adalah dengan menggunakan bahan yang memiliki kandungan pati yang tinggi seperti jagung, singkong, ubi jalar, dan umbi-umbian lainnya. Prinsip dasar produksi fruktosa adalah bahan yang mengandung pati diproses secara enzimatik liquifikasi dan sakarifikasi menghasilkan glukosa, setelah itu diproses lebih lanjut dengan menggunakan enzim glucose isomerase / enzim sweetzime. Glukosa yang diproses oleh enzim gluco isomerisme berubah menjadi fruktosa, yaitu sirup fruktosa tinggi adalah campuran glukosa dan fruktosa. Untuk mendapatkan sirup fruktosa dengan kadar yang tinggi, dilakukan dengan proses isomerisme berulang kali dengan tujuan mengubah lebih banyak glukosa menjadi fruktosa. Sirup fruktosa dengan kadar yang tinggi dapat menggantikan gula sukrosa dalam industri makanan dan minuman, dengan lebih banyak keuntungan, biayanya lebih rendah, tetapi rasanya lebih baik.
Sebagai contoh proses pembuatan fruktosa dengan tepung jagung adalah sebagai berikut: 1). Langkah pertama adalah proses pencampuran tepung jagung dengan air dan menyesuaikan konsentrasi cairan, dengan pH 5.5-6.5;  2). Langakah selanjutnya adalah proses liquifikasi dengan suhu tinggi dengan menggunakan enzim / katalisis alfa amylase sehingga pati jagung pecah  secara maksimal berubah menjadi dekstrin; 3). Proses sakarifikasi pada suhu 58-60 C kurang lebih 72 jam dengan menggunakan enzim gluco amylase sehingga  mengkatalisasi dekstrin menjadi glukosa; 4). Setelah dihasilkan glukosa langkah selanjutnya adalah dekolorisasi dan filtrasi dengan menggunakan mesin press plat dan frame filter; 5). Filtrasi adalah proses penyaringan dengan menggunakan drum filter untuk menghilangkan protein larut, mengurangi kandungan protein dalam cairan glukosa, dan partikel padatan yang terlarut; 6).Langkah selanjutnya glukosa diproses dengan secara enzimatis dengan menggunakan enzim gluco isomerase / sweetzime sehingga dihasilkan gula fruktosa;7). Langkah terakhir adalah proses evaporasi yaitu pemanasan dan penguapan, bertujuan meningkatak konsentrasi sirup yang lebih tingi sesuai standar yang dikehendaki, siap dikemas.


Wednesday, July 31, 2019

Bertani Sistem Hidroponik





Agrotekno Jual Aneka Culture Mikroba
Telp. 087731375234


Hidroponik adalah merupakan salah satu teknik bercocok tanam yang saat ini kian digandrungi oleh banyak kalangan. Dengan teknik hidroponik kita tidak perlu menggunakan media tanah dan tidak harus menggunakan areal lahan yang luas. Sistem hidroponik dipandang sebagai teknik bercocok tanam yang mampu mengatasi lahan pertanian yang semakin sempit karena berkembangnya pemukiman. Secara bahasa Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai  soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Pada sistem hidroponik nutrisi yang dibutuhkan tanaman berupa unsur hara makro dan mikro dilarutkan dalam media air yang diserap tanaman.
Selain tidak memerluakan media tanah, system hidroponik juga memiliki keunggulan lain yaitu; 1). Aair akan terus bersirkulasi di dalam sistem dan bisa digunakan untuk keperluan lain, misalnya dijadikan akuarium; 2). Pengendalian nutrisi lebih sederhana sehingga nutrisi dapat diberikan secara lebih efektif dan efisien; 3). Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan; 4). Memberikan hasil yang lebih banyak; 5). Mudah dalam memanen hasil; 6). Steril dan bersih; 7). Media tanam dapat digunakan berulang kali; 8).Bebas dari tumbuhan pengganggu/gulma; 9). Tanaman tumbuh lebih cepat. Sistem hidroponik dapat diterapkan untuk berbagai macam jenis tanaman diantaranya sayuran, tanaman buah, dan tanaman hias. System hidroponik penempatannya sangat fleksibel dapat diletakan dihalaman rumah, pekarangan dengan mengguanakan green house, di atap rumah atau samping rumah sehingga dapat sekaligus dimanfaatkan sebagai penghijauan lingkungan.  

Macam-macam hidroponik
·         Static solution culture (kultur air statis)
·         Continuous-flow solution culture, contoh: NFT (Nutrient Film Technique),DFT (Deep Flow Technique)
·         Aeroponics
·         Passive sub-irrigation
·         Ebb and flow atau flood and drain sub-irrigation
·         Run to waste
·         Deep water culture
·         Bubbleponics
·         Bioponic

Static solution culture
Static solution culture adalah budidaya hidroponik dengan air statis yaitu airnya diam dan tidak mengalir, merupakan teknik hidroponik yang akarnya secara terus-menerus tercelup ke dalam air yang diletakkan pada wadah berisi larutan nutrien. Di Indonesia, Static solution culture lebih dikenal dengan istilah teknik apung (atau disebut rakit apung) dan sistem sumbu (atau disebut wick system). Merupakan jenis paling sederhana dari semua jenis hidroponik. Untuk ukuran wadah larutan dapat berbeda tergantung pada penggunaan dan ukuran tanaman. Dalam skala kecil (skala rumah tangga maupun hobby berskala kecil), hidroponik dapat dibuat dengan wadah yang biasanya dipakai di dalam rumah seperti gelas, toples, ember, ataupun bak air.
Wadah bening dapat di bungkus dengan Aluminium foilplastikcat, atau material lain yang menolak cahaya (membuat cahaya tidak bisa masuk) sehingga lumut tidak dapat tumbuh. Penutup wadah air dilubangi dan diisi tanaman, disitu dapat diisi satu atau beberapa netpot tanaman untuk setiap wadah air. Dalam teknik sumbu sendiri setiap net pot diisi media tanam dan potongan kain yang menjulur ke bawah yang berfungsi menyerap larutan ke akar tanaman melalui pipa-pipa kapiler pada kain. Sedangkan dalam teknik apung dapat menggunakan lembaran gabus yang dilubangi dan disisi pot-pot kecil yang diisi (media tanam) untuk tanaman yang akarnya tercelup langsung pada wadah air.
Agar larutan nutrien dapat bersirkulasi secara merata, maka perlu diberi oksigen dengan mesin pompa udara atau disebut aerator (aerator kecil bisa didapat di toko ikan) ataupun dengan penggunakan pompa air yang biasa dipakai di aquarium. dalam skala komersial dapat menggunakan pompa bertenaga medium (yang biasa dipakai untuk pancuran kolam dan taman). Tanpa aerator pun masih bisa, namun jika tidak di beri aerator, akan membuat larutan yang berada di bagian bawah menjadi tidak terserap lantaran posisi akar berada di atas larutan yang tidak terserap (lantaran air tidak bersirkulasi), dan juga, akar-pun kurang mendapat asupan oksigen.
Larutan nutrien dapat diganti sesuai jadwal atau sesuai prosedur. Setiap kali larutan berkurang hingga di bawah tingkat tertentu, maka perlu menambahkan air atau larutan nutrisi segar sesuai dengan kebutuhan masing-masing tanaman yang dinyatakan dengan satuan TDS (Total Solid Dissolved) atau PPM (Part per Million) yang diperlukan.
Hidroponik teknik sumbu (wick system) memiliki kendala pada penurunan volume larutan, untuk mencegah ketinggian larutan nutrien turun di bawah akar ataupun sumbu, dapat digunakan keran dengan katup pelampung bola (yang biasa dipakai di tandon) untuk menjaga ketinggian larutan secara otomatis. Dalam budidaya larutan rakit apung, tanaman ditempatkan dalam celah pada lembaran gabus / stereofoam yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi. Dengan teknik apung, ketinggian larutan tidak akan turun di bawah akar dan akarpun selalu tercelup pada larutan nutrien.

Aeroponik
Aeroponik adalah merupakan sistem yang akarnya secara berkala dibasahi dengan butiran-butiran larutan nutrien yang halus (seperti kabut). Metode ini tidak memerlukan media dan memerlukan tanaman yang tumbuh dengan akar yang menggantung di udara atau pertumbuhan ruang yang luas yang secara berkala, akar dibasahi dengan kabut halus dari larutan nutrisi. Aerasi secara sempurna merupakan kelebihan utama dari aeroponik.
Teknik aeroponik telah terbukti sukses secara komersial untuk perkecambahan biji, produksi benih kentang, produksi tomat, dan tanaman daun. Kelebihan aeroponik yang lain yang berbeda dari hidroponik adalah bahwa setiap jenis tanaman dapat tumbuh (dalam sistem aeroponik yang benar), karena lingkungan mikro dari aeroponik benar-benar dapat dikontrol. Keunggulan aeroponik adalah bahwa tanaman aeroponik yang di jeda pembasahannya akan dapat menerima 100% dari oksigen yang ada, dan karbon dioksida pada bagian akar, batang, serta daun, sehingga mempercepat pertumbuhan biomassa dan mengurangi waktu perakaran.
Penelitian NASA menunjukan teknik aeroponik, bahwa tanaman dapat mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar 80% dalam massa berat kering (mineral penting) dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh pada hidroponik lain. Aeroponik menggunakan 65% air dari kebutuhan air hidroponik. NASA juga menyimpulkan bahwa tanaman yang tumbuh dengan aeroponik, membutuhkan ¼ nutrisi yang digunakan dibandingkan dengan hidroponik lain  Bercocok tanam dengan Aeroponik menawarkan kemampuan petani untuk mengurangi penyebaran penyakit dan patogen. Aeroponik juga banyak digunakan dalam penelitian laboratorium fisiologi tanaman dan patologi tanaman. Teknik aeroponik mendapat perhatian khusus oleh NASA karena kabut lebih mudah untuk ditangani daripada menangani cairan di tempat tanpa gravitasi. Kelebihan lain dari aeroponik ini, kentang dapat dipanen tanpa merusak jaringan akar pada tanaman sehingga sebuah tanaman dapat dipanen berkali-kali[12] dan dapat memilih umbi kentang yang siap panen.

Media tanam
Media tanam inert adalah media tanam yang tidak menyediakan unsur hara. Pada umumnya media tanam inert berfungsi sebagai buffer dan penyangga tanaman. Beberapa contoh di antaranya adalah:
·         Arang sekam
·         Spons
·         Expanded clay
·         Rockwool
·         Sabut (Coir)
·         Perlite
·         Batu apung (Pumice)
·         Vermiculite
·         Pasir
·         Kerikil
·         Serbuk kayu atau disebut serbuk gergaji

Beberapa Tanaman yang sering dibudidayakan dengan Teknik Hidroponik
1. Selada
Tanaman yang sering kali disantap dalam keadaan mentah atau disebut dengan lalapan ini merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik. Selada merupakan salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan menggunakan teknik hidroponik. Selain itu, keuntungan lain dari menanam selada dengan teknik hidroponik adalah perawatannya yang tidak ribet. Selada juga akan tumbuh dalam waktu yang cukup cepat, yaitu hanya dalam 2 minggu bibit selada yang telah disemai sudah bisa mengeluarkan 2 lembar daun.
2. Timun
Tanaman timun termasuk tanaman yang hasilnya memuaskan ketika dibudidayakan dengan teknik hidroponik. Untuk menunjang keberhasilan hidroponik tanaman timun maka diperlukan cahaya yang cukup. Selain itu, ketika tanaman timun sudah mulai tumbuh besar memerlukan lahan yang cukup luas agar buah timun nantinya tidak rusak.
3. Sayuran berdaun hijau
Selain selada, sayuran berdaun hijau lainnya seperti bayam, kangkung, dan sawi juga bisa ditanam secara hidroponik. Tak kalah dengan selada, sayuran ini juga akan tumbuh baik ketika ditanam secara hidroponik. Tips yang harus Anda perhatikan untuk menanam sayuran hijau secara hidroponik yaitu jangan sampai membiarkan sayuran tersebut tumbuh terlalu besar. Sebab hal ini bisa menghambat sirkulasi udara yang berakibat sayuran menjadi layu bahkan mati.
4. Buah-buahan
            Tak hanya sayuran, buah-buahan seperti hidroponik tomat, melon, dan cabe juga dapat dibudidayakan secara hidroponik. Agar buah-buahan tersebut tumbuh dengan baik, hal yang harus Anda perhatikan yaitu nutrisi air serta asupan cahaya. Sedangkan untuk tanaman berukuran besar seperti melon, jangan lupa untuk menyediakan lahan yang cukup luas.

Saturday, July 13, 2019

Meningkatkan Nilai Ekonomis Limbah Industri Tapioka






Jual Bibit Bakteri Acetobacter xylinum
Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase, Selulase, Pectinase, Fruktase
Jual Fumula Biomocaf Untuk Mempercepat Proses Fermentasi Tapioka Dan Pembuatan Mocaf
Jual Aspergillus niger

Telp. 087731375234


Tapioka adalah salah satu produk  berbahan baku singkong unggulan Indonesia. Indonesia merupakan salah satu produsen singkong terbesar di dunia. Potensi inilah yang menjadikan Indonesia mampu menjadi penghasil tepung tapioka yang cukup besar yang mampu memenuhi kebutuhan nasional maupun pengekspor tapioka. Dilihat dari aspek pasarnya, tapioka memiliki pangsa pasar sangat tinggi baik domestik maupun manca negara. Tapioka banyak dibutuhkan untuk aneka produk olahan makanan seperti kue, mie, kerupuk, empek-empek, dan lain-lain. Industri olahan pangan tersebut berkembang cukup pesat di Indonesia sehingga kebutuhannya meningkat dari tahun ke tahun. Industri tapioka telah banyak menyerap tenaga kerja cukup besar dan meningkatkan kesejahteraan pada para petani. Industri tapioka cukup berkembang di daerah Jawa dan Sumatra.
Dalam proses pembuatan tapioka memerlukan air untuk memisahkan pati dari serat. Pati yang larut dalam air harus dipisahkan. Akan tetapi, teknologi yang ada saat ini belum mampu memisahkan seluruh pati yang terlarut dalam air sehingga limbah cair yang dilepaskan ke lingkungan masih mengandung pati. Limbah cair akan mengalami dekomposisi secara alami dan menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga dapat mengganggu lingkungan. Bau tersebut dihasilkan pada proses penguraian senyawa mengandung nitrogen, sulfur, dan fosfor dari bahan berprotein. Limbah tapioka banyak mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Hal ini yang menyebabkan nilai BOD menjadi tinggi. Selain itu, limbah tapioka juga mengandung asam sianida  (HCN) yang bersifat racun. Sianida adalah senyawa yang sangat beracun, larut dalam air, dan mudah menguap pada suhu kamar. Kandungan asam sianida (HCN) pada limbah tapioka kurang lebih 0,27 mg/L sedangkan baku mutu limbah cair tapioka adalah 0,3 mg/L. Tingginya asam sianida akan menyebabkan terhambatnya degradasi  limbah cair secara alami oleh mikroorganisme.
Limbah cair tapioka tersebut perlu adanya upaya penanganan yang baik bahkan diupayakan bagaimana dihasilkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomis yang dapat mampu meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Bebarapa solusi untuk mengatasi limbah cair industri tapioka diantaranya adalah yaitu untuk memproduksi nata de cassava (nata berbahan baku singkong yang dapat digunakan untuk produk minuman kemasan). Limbah cair pada proses perendaman pati ini dapat dijadikan produk nata melalui proses fermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacer xylinum. Umumnya industri tapioka masih membuang limbah cair ini ke sungai atau selokan. Limbah cair tersebut masih mengandung nutrisi yang tinggi khususnya karbohidrat sehingga masih bisa dimanfaatkan.
Jika limbah cair tapioka tersebut tidak dimanfaatkan dan agar tidak mengganggu lingkungan maka limbah cair tersebut diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu yang aman jika dibuang ke lingkungan. Salah satu teknologi yang sering digunakan untuk mengolah limbah tapioka menjadi aman untuk dibuang ke lingkungan adalah dengan menggunakan penambahan mikroorganisme yang menguntungkan sehingga mampu mendegradasi limbah organik, seperti senyawa karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. Mikroorganisme ini memanfaatkan bahan organik untuk hidup seperti karbohidrat, protein, lemak, dan mineral lainnya yang ada dalam limbah cair tapioka.
Limbah padatan industri tapioka  yaitu berupa ampas singkong atau sering disebut onggok masih memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi bila ditangani secara baik. Onggok singkong kering halus dihargai kisaran Rp.2000-.  Onggok singkong biasanya dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi atau kambing atau dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk, atau beberapa industri lain seperti campuran saos, dll. Selain itu, onggok juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pelet pakan ikan yaitu dengan dilakukan fermentasi terlebih dahulu dengan menggunakan ragi jenis Aspergillus niger untuk meningkatkan kadar proteinnya dan menurunkan kadar serat. Dengan fermentasi menggunakan Aspergillus niger maka akan meningkatkan kadar protein kurang lebih 7%. Supaya onggok dapat bertahan lama, perlu dilakukan proses pengeringan. Pemanfaatan limbah padat tapioka menjadi produk yang bernilai ekonomis merupakan solusi tepat untuk penanganan limbah.





Monday, July 8, 2019

Kiat Berbisnis Olahan Kedelai








Jual Ragi Tempe Dan Buku Aneka Olahan Kedelai
Telp. 087731375234

Kedelai adalah salah satu komoditas pertanian yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Kedelai merupakan bahan baku berbagai produk olahan makanan diantaranya tahu, tempe, kecap, dan lain-lain. Kebutuhan Kedelai di Indonesi cukup tinggi, akan tetapi produksi nasional belum mencukupi sehingga sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih harus dipasok dari negara lain. Kita harus memacu produksi kedelai lokal supaya tidak bergantung kepada negara lain.
Tempe adalah salah satu makanaan khas Indonesia yang sangat digemari oleh banyak kalangan. Tempe memiliki nilai gizi yang tinggi dan harganya  murah terjangkau oleh masyarakat. Tempe memiliki kadar protein yang tinggi dan rasanya juga nikmat sehingga tempe dapat menjadi menu alternatif untuk mengganti kebutuhan protein berasal dari daging yang harganya lebih mahal. Potensi pasar produk tempe dalam negeri cukup besar dan luas, bahkan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor penyebab tingginya konsumsi tempe di Indonesia antara lain adalah karena produksi daging dalam negeri yang masih rendah sehingga masih harus mengimpor dari negara lain.
Di Indonesia, selain menggunakan kedelai, tempe juga dapat diproduksi dengan menggunakan bahan baku seperti ampas tahu, jagung, benguk, dan lain-lain. Namun tempe lebih umum dan lebih disukai dari bahan baku kedelai. Tempe dengan menggunakan bahan baku kedelai memiliki cita rasa yang lebih nikmat dan gizi yang tinggi. Di Indonesia, produksi tempe umumnya masih menggunakan bahan baku kedelai transgenik dan sistem pertanian yang masih menggunakan bahan-bahan kimia. Kedelai transgenik lebih disukai oleh para pengrajin tempe karena memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih seragam sehingga kualitas tempe yang dihasilkan lebih bagus dan lebih ekonomis dibandingkan kedelai lokal. Produksi bahan baku kedelai dalam negeri yang masih rendah dan kualitasnya juga kurang baik, menyebabkan sebagian besar bahan baku kedelai masih impor dari negara lain. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan produksi kedelai dan meningkatkan kualitas kedelai dengan mengembangkan rekayasa genetika dan sistem pertanian organik sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mampu menembus pasar internasional yang lebih luas.
Industri tempe adalah jenis usaha yang umumnya merupakan industri rumahan dengan investasi tidak terlalu besar dan jumlah karyawan sedikit. Namun, industri tempe telah banyak menjadi sumber penghidupan bagi rakyat kecil dan memenuhi kebutuhan produk pangan bergizi tinggi dan terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk nasional yang terus meningkat, menunjukan bahwa potensi pasar produk tempe semakin besar dan merupakan peluang untuk mengembangankan bisnis tempe.
            Untuk memproduksi tempe dibutuhakn alat dan bahan sebagai berikut:

a. Bahan Pembuatan Tempe:
1. Kedelai Putih 10 Kg
2. Bibit tempe/Ragi Tempe 10gr
3. Air bersih

b. Alat-alat Pembuatan Tempe:
1. Panci
2. Kompor
3. Tampah 2 buah
4. Ember Plastik
5. Plastik Pembungkus
6. Kertas dan daun pisang

c. Proses Pembuatan Tempe Kedelai :
1. Sortasi kedelai dari bahan-bahan yang tidak berguna seperti daun, batang, pasir dan lain-lain.
2.Rendam kedelai 5-8 jam, dan buang airnya.
3.Rebus kedelai hingga mendidih, buang airnya.
4. diremas-remas untuk menghilangkan kulitnya dan agar kedelai terbelah, namun tidak hancur., sambil dicuci dengan air yang mengalir untuk menghilangkan lendirnya. Proses ini dapat dilakuakan dengan menggunakan mesin atau secara manual.
5. Kedelai yang telah dicuci bersih tersebut, kemudian dikukus hingga tanak.
6. Tiriskan, setelah dingin lakukan inokulasi dengan ragi tempe (Rhyzopus oryzae), aduk hingga rata.
7. Pengemasan dengan menggunakan plastik, atau daun pisang. Jika menggunakan kemasan plastik, berikan rongga udara dengan mencoblosi  permukaan kemasan plastik secara merata dengan menggunakan batang bambu ukuran o, 1 cm yang diruncingkan
8. Pemeraman dengan menggunakan rak selama kurang lebih 2 hari.
9. Pemanenan

Friday, July 5, 2019

Peluang Bisnsi Budidaya Ubi Ungu








Jual Formula Bio-Mocaf
telp. 087731375234


Ubi ungu adalah merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Ubi ungu memiliki warna ungu dan rasa yang cukup manis dan rasanya juga banyak disukai oleh penggemarnya. Ubi ungu banyak diolah menjadi berbagai makanan camilan, hidangan ubi rebus, dan diolah jadi tepung ubi ungu yang bias jadi bahan untuk pembuatan kue dan lain-lain.
Cara Budidaya Ubi Ungu
Ubi ungu dapat tumbuh dengan baik pada daerah kering maupun basah, memiliki suhu udara antara 21-27 derajat celcius dan mendapatkan sinar matahari sekitar 11-12 jam salam sehari. Tanah yang baik untuk menanam ubi ungu yaitu tanah yang memiliki derajat keasaman atau pH sekitar 5,5-7,5.
1. Persiapan Bibit Ubi Ungu
Perbanyakan bibit ubi ungu dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu dengan cara generatif melali umbi dan cara vegetatif melalui stek batang. Cara pembibitan secara generatif yaitu pilihlah bibit yang memiliki kualitas baik dan sehat, setelah umbi diperoleh umbi dibiarkan pada tempat yang lembab hingga tunas keluar. Setelah tunas keluar, tunas dipotong dan siap dibesarkan. Namun cara ini jarang dilakukan untuk budidaya skala besar, namun dalam skala kecil saja.
Cara pembibitan secara vegetatif yaitu pilih tanaman ubi jalar yang telah berumur 2 bulan lebih yang beruas pendek. Batang yang akan dijadikan bibit di potong sepanjang 15-25 cm dan minimal batang yang akan dipotong tersebut memiliki 2 ruas batang, daunnya di buang agar mengurangi penguapan. Setelah itu, ikat bibit stek tersebut dan letakkan pada tempat teduh selama seminggu. Disarankan perbanyakan ubi jalar melalui cara ini hanya dilakukan pada 3-5 generasi penanaman karena cara ini dapat menurunkan kualitas tanaman umbi.



2. Persiapan Lahan Tanam Ubi Ungu
Lahan yang akan digunakan untuk budidaya ubi ungu diolah terlebih dahulu. Buang gulma atau tanaman pengganggu lainnya yang ada di sekitar lahan. Kemudian, lakukan penggemburan tanah dengan cara dicangkuli atau dibajak. Setelah itu, buatlah bedengan dengan ukuran tinggi sekitar 30-40cm, lebar 60c-100cm dengan panjang disesuaikan dengan lahan, beri jarak antar bedengan sekitar 40c-60cm. Kemudian lakukan pemupukan dasar dengan pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang dengan dosis sekitar 20 ton per hektar lahan.

3. Cara Menanam Tanaman Ubi Ungu
Setelah semuanya siap, segera lakukan penanaman. Benamkan 2/3 bagian batang bibit stek batang ke dalam tanah bedengan. Dalam satu bedengan dibuat 2 baris tanaman bibit dengan jarak antar 1 barus sekitar 30 cm dan jarak antar baris sekitar 40 cm.

4. Perawatan Tanaman Ubi Ungu
Pada awal tanam, lakukan penyiraman secara rutin untuk menjaga kelembaban tanahnya yaitu setiap pagi dan sore. Jika tanaman sudah mulai tumbuh optimal penyiraman dapat dihentikan karena tanaman ubi termasuk tanaman yang tahan terhadap kekeringan. Setelah 2-3 minggu penanaman, lakukan pemeriksaan. Jika ada tanaman ubi ungu yang mati atau tidak tumbuh optimal segera lakukan penyulaman dengan menggantinya dengan bibit yang baru agar bibit tetap tumbuh serempak.

Setelah satu bulan tanam, lakukan pembongkaran pada tanah di sisi kanan dan kiri tanaman dengan jarak 10 cm, tujuannya agar akar tanaman tidak menjalar kemana-mana. Bersamaan dengan ini lakukan pula penyiangan pada gulma atau tanaman pengganggu lainnya disekitar tanaman ubi ungu. Kemudian, setelah 6-8 minggu lakukan penutupan kembali tanah yang dibongkar dan lakukan juga perapihan pada akar tang keluar agar ubi tumbuh tidak terlalu besar.

5. Masa Panen Ubi Ungu
Pemanenan ubi ungu dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3,5-4 bulan tanam. Dalam satui hektar laha dapat dihasilkan umbi sebanyak 25-40 ton. Demikian artikel pembahasan tentang”6 Panduan Lengkap Cara Budidaya Ubi Ungu Bagi Pemula Agar Cepat Panen“, semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan kami berikutnya. Sampai Jumpa.


Cara pembuatan tepung ubi ungu adalah sebagai berikut :
1.    Sortasi (pisahkan) ubi ungu  yang busuk  atau  terkena serangan hama boleng.
2.    Ubi dicuci, dikupas, diiris tipis-tipis kurang lebih 0,3 ml atau disawut secara manual atau menggunakan alat slicing manual atau dengan mesin.
3.    Irisan ubi kemudian dijemur atau dikeringkan menggunakan alat pengering pada suhu 40 – 60 oC hingga kering (kadar air sekitar 7-11 %),
4.    Untuk menghasilkan tepung ubi ungu dengan tekstur dan aroma yang lebih baik dan daya tahan lebih lama, dapat dilakukan sebelum proses pengeringan irisan ubi ungu (chips) yaitu perendaman dengan menggunakan bakteri asam laktat selama kurang lebih 2-3 hari.
5.    Kemudian digiling dengan menggunakan mesin penepung, kemudian dikemas dengan kantong plastik kemudian press dengan alat sealer.
6.    Penyimpanan tepung ubi jalar dapat dilakukan hingga ±6 bulan. Rendemen tepung ubi jalar sebesar 20-30%





Posting Lama ►

Total Pageviews

Jual Aneka Media Mikroba Dan Jasa Uji Lab

AGROTEKNO-LAB

AGROTEKNO-LAB
Jual Aneka Jenis Mikrobia Untuk Industri Dan Penelitian

Aspergillus niger

Aspergillus niger
Untuk fermentasi pakan ternak

agrotekno77@gmail.com

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
 

Copyright © 2012. MITRA AGROBISNIS DAN AGROINDUSTRI. Telp. 087731375234 - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz