Saturday, May 5, 2018

Peluang Usaha Mengolah Singkong Menjadi Nata De Cassava




Jual Bibit Acetobacter xylinum
Telp. 087731375234


Singkong adalah salah satu komoditas pertanian unggulan Indonesia. Singkong telah banyak diolah menjadi aneka produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya adalah; tapioka, tepung mocaf, bioetanol, casapro, pakan ternak, dan berbagai aneka makanan camilan.  saat ini, singkong telah dikembangkan menjadi nata de cassava-bahan baku minuman kemasa. Pengolahan singkong menjadi nata de cassava merupakan temuan yang sangat bermanfaat bagi industri minuman karena bisa menjadi subtitusi  nat de coco yang kebutuhannya sangat tinggi. Industri minuman nata de coco memiliki permintaan yang sangat tinggi karena selain memiliki pasar domestik juga pasar manca negara. Kebutuhan pabrik minuman nata de coco masih belum terpenuhi secara maksimal, karena masih terkendala keterbatasan bahan baku air kelapa. Nata de cassava yang berbahan baku singkong memiliki keunggulan bahan baku yang melimpah dan karakteristik natanya tidak beraroma menyengat, serta lebih kenyal tidak terlalu alot.

Nata de cassava secara tampilan mirip dengan nata de coco yaitu berbentuk jel, warna putih, kenyal, berserat tinggi. Nata de cassava lebih lunak tidak alot, dan aroma nya tidak terlalu menyengat dibanding dengan nata de coco-nata berbahan baku air kelapa. Nata merupakan bahan baku produk minuman kemasan yang sudah sangat popular dan banyak disukai kalangan. Saat ini kebutuhan air kelapa untuk industi nata de coco semakin bersaing, seiring dengan tingginya permintaan nata de coco. Ketersediaa bahan baku singkong yang melimpah menjadi keunggulan tersendiri pengembangan industry nata de cassava sebagai subtitusi nata de coco. 

Urutan proses pembutan nata de cassava adalah sebagai berikut:
1. Pengupasan
Singkong yang telah ditimbang, kemudian dikupas dengan menggunakan pisau. Kemudian singkong yang telah dikupas ditampung dalam ember yang berisi air agar tidak terjadi penambahan asam sianida yang menyebabkan warna singkong menjadi biru dan berasa pahit.
2. Pencucian
Singkong yang telah dikupas, kemudian dicuci hingga bersih dengan menggunakan air yang mengalir.
3. Pemarutan
Proses pemarutan dilakukan dengan menggunakan mesin pemarut. Proses pemarutan dengan menggunakan mesin pemarut lebih efesien dan lebih cepat.
4.Pengenceran
Singkong yang telah diparut kemudian diencerkan dengan penambahan air bersih kurang lebih 50 liter per 5 Kg umbi singkong yang telah dikupas. Air yang digunakan untuk pengenceran harus dengan menggunakan air yang bebas dari bahan kimia seperti kaporit atau tercemar bahan kimia lainnya.
5. Perebusan I
Tambahkan enzim αlfa-amilasi sebanyak 10-15 ml. Kemudian lakukan pengadukan sampai merata. Setelah mendidih, larutan diangkat kemudian pada saat proses pendinginan mencapai suhu kurang lebih 60-65˚C ditambahkan enzim gluco-amylase sebanyak 10-15 ml, biarkan sampai dingin kurang lebih 2-3 hari.
6.Penyaringan
Setelah larutan menjadi dingin lakukan penyaringan dan pemerasan/pengepresan dengan menggunakan kain atau menggunakan alat pengepres mekanik.
7.Perebusan II
Larutan sebanyak 50 liter yang telah disaring dan dipisahkan ampasnya, kemudian direbus lagi. Kemudian tambahkan asam asetat sebanyak 200 ml. Setelah mendidih tambahkan ZA (ammonium sulfat) sebanyak 150 gram.
8.Fermentasi / inkubasi
Siapkan nampan bersih, tutup koran dengan diikat karet ban secara melingkar pada bagian tepi nampan, lalu susun pada rak. Jika media larutan singkong telah mendidih, kemudian buka salah satu bagian ujung nampan, tuangkan larutan dalam keadaan mendidih ke dalam nampan kemudian ditutup kembali dan diikat dengan tali karet ban, disusun tumpuk bersilangan hingga 6-8 nampan di rak. Setelah dingin, kemudian diinokulasi dengan penambahan bibit Acetobacter xylinum sebanyak 10 % atau kurang lebih 100-120 ml, biarkan hingga 8-10 hari.

Friday, April 20, 2018

Mencari Solusi Pengganti AGP Pada Peternakan Unggas





Jual Probiotik : Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, Lactobacillus
Telp. 087731375234




Pada awal tahun 2018, pemerintah membuat suatu kebijakan pelarangan terkait dengan pemakaian imbuhan pakan ternak, Antibiotic Growth Promoters (AGP) dan Ractopamine. Residu AGP dari hasil produksi ternak, dikhawatirkan menimbulkan resistensi bagi orang yang mengkonsumsi daging atau telur. Pelarangan penggunaan AGP berakibat meningkatnya penyakit pada hewan ternak unggas, baik petelur maupun pedaging sehingga menurunkan produktifitas secara signifikan.
Antibiotik pada dunia perunggasan memiliki peran sebagai: Terapeutik, artinya antibiotik diberikan kepada hewan sakit agar sembuh dari agen penyakit kausatifnya. Metafilaksis (kontrol), artinya antibiotik diberikan kepada hewan suspek pada daerah yang ditemukan penyakit agar mengurangi penyebaran penyakit. Profilaksis (pencegahan), artinya antibiotik diberikan kepada hewan sehat untuk memberikan proteksi agar tidak terkena penyakit. Antibiotic Growth Promoter / AGP (antibiotik imbuhan pakan), artinya antibiotik diberikan untuk mengeliminir bakteri merugikan saluran pencernaan agar mendapatkan bobot badan serta rasio konversi pakan yang lebih baik.
AGP sendiri diberikan pada unggas dengan dosis sub-terapeutik atau dibawah dosis normal untuk terapi. Karena target AGP sendiri adalah kepada bakteri pada permukaan saluran pencernaan, sehingga pemberian dosis sub-terapeutik diharapkan tidak terdistribusi jauh hingga ke dalam organ dan tidak meninggalkan residu pada daging dan telur saat dipanen. Kelarutan dari jenis antibiotik juga berpengaruh terhadap distribusi obat tersebut di dalam tubuh, seperti contoh AGP jenis Flavomisin yang larut air dan polar menyebabkan pemberian dosis tinggi tidak diserap tubuh dan tidak memerlukan waktu henti (withdrawal time) untuk residu. Berbeda dengan jenis Oksitetrasiklin yang sangat larut lemak dan tidak polar menyebabkan pemberian dosis rendah tetap diserap tubuh dan  memerlukan waktu henti untuk residu dapat hilang.
WHO melakukan upaya pengurangan penggunaan antibiotik secara berlebihan pada peternakan dan perikanan. Di Indonesia mulai diberlakukan pelarangan penggunaan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan berdasarkan undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014. Walaupun undang-undangnya sudah ada, namun hingga tahun ini antibiotik imbuhan pakan belum sepenuhnya dapat dieliminasi. Hal ini dikarenakan jika langsung dihilangkan begitu saja, maka industri perunggasan dapat mengalami krisis. Diantaranya konversi pakan membengkak dan deplesi yang tinggi akibat Necrosis Enteritis.
Pelarangan AGP dikarenakan  sudah tingginya kejadian resistensi bakteri terhadap banyak jenis antibiotik, bahkan antibiotik yang dipersiapkan untuk menangani kasus bakteri multi-resisten. Sebagai contoh kasus infeksi seperti yang disebabkan oleh VRE (Vancomycin-resistant Enterococci) atau CRE (Carbapenem-resistant Enterobacteriaceae) tentu akan sangat sulit untuk diobati. AGP sendiri telah terbukti dapat menyebabkan resistensi silang antara antibiotik dalam satu golongan. Sebagai contoh Virginiamisin yang hanya diberikan kepada hewan sebagai AGP dapat menyebabkan resistensi silang dengan Quinupristin/Dalfopristin yang merupakan antibiotik second-line pada manusia. Hal ini dikarenakan keduanya masuk dalam golongan antibiotik yang sama, yakni Streptogramin. Resistensi silang ini menyebabkan kekebalan bakteri jenis tertentu terhadap semua jenis antibiotik Streptogramin, walaupun manusia yang terinfeksi bakteri tersebut belum pernah meminum antibiotik golongan Streptogramin sebelumnya.
Di negara besar lainnya sendiri sebenarnya terdapat beberapa regulasi yang berbeda-beda. Amerika Serikat dan Kanada melarang penggunaan golongan antibiotik yang penting di manusia sebagai AGP. Golongan antibiotik yang penting adalah daftar golongan antibiotik yang dikeluarkan oleh WHO yang dianggap vital bagi manusia karena keefektivitasannya dalam mengobati penyakit.  Prakteknya adalah antibiotik seperti Avoparcin yang merupakan AGP yang hanya dipakai untuk hewan, namun karena tergolong antibiotik golongan Glikopeptida (Vancomisin) yang termasuk penting di manusia sehingga tidak diperbolehkan digunakan sebagai AGP. Sedangkan golongan antibiotik yang tidak digunakan pada manusia seperti Flavofosfolipol (Flavomisin / Bambermisin) atau Ionofor masih dapat dipergunakan sebagai AGP.
Di Eropa sendiri tertanggal 1 januari 2006 telah melarang semua jenis antibiotik yang ditujukan sebagai Growth Promoter, baik yang digunakan di manusia ataupun tidak. Artinya AGP seperti Flavomisin juga dilarang dipergunakan. Walapun demikian, Ionofor (Monensin, Salinomisin, Lasalocid, dll), salah satu jenis antibiotik yang ditujukan untuk mengatasi koksidia, masih diperbolehkan digunakan di unggas sebagai pencegahan koksidia dan NE, walaupun penggunaannya pada ruminansia telah dilarang karena tujuannya lebih sebagai AGP.
Sebenarnya telah banyak penemuan dan produsen obat yang menawarkan pengganti AGP ini, mulai dari enzim, minyak esensial, asam organik, probiotik, prebiotik, dll yang terbukti dapat mengeliminir bakteri yang merugikan pada saluran pencernaan. Walaupun demikian, penggunaanya tanpa perbaikan mutu pakan di feedmill atau perbaikan manajemen di farm akan sangat tidak mungkin dapat dilakukan demi mendapatkan performa yang maksimal. Perbaikan di feedmill seperti perbaikan kecernaan pakan atau manajemen ammonia di farm tentu akan sangat membantu pengganti AGP tersebut dalam mengontrol flora di saluran pencernaan.
Pada akhirnya, AGP sebenarnya sangat diperlukan di unggas. Namun karena dampak negatifnya terhadap manusia, penggunaan antibiotik hendaknya dikembalikan lagi hanya sebagai terapeutik. Penambahan pengganti AGP, perbaikan pakan di feedmill dan manajemen di farm harus dilakukan secara holistik untuk menjaga agar performa unggas tetap baik walaupun AGP telah diberhentikan. Pengawasan penggunaan antibiotik di hewan, baik unggas khususnya atau hewan lain pada umumnya juga harus lebih diperketat oleh dokter hewan (antibiotic stedwardship), karena pada prinsipnya kasus resistensi disebabkan karena pemberian antibiotik yang tidak tepat sasaran. Pengetahuan dokter hewan mengenai antibiotik juga harus diperdalam, sehingga pada saat menangani suatu kasus dapat memberikan antibiotik secara akurat, tepat dan benar, sehingga kejadian resistensi silang dapat ditekan.

Sunday, March 18, 2018

Peluang Bisnis Kecap Kedele






Jual Ragi Kecap Aspergillus sojae. Aspergillus oryzae
Telp. 087731375234

Kecap dapat diolah dari berbagai macam jenis bahan, antara lain adalah; kedelai hitam, kedelai kuning, kacang benguk, air kelapa dan lain-lain. Namun, kecap dengan bahan baku kedelai hitam memiliki cita rasa yang lebih nikmat dan tampilan lebih menarik. Proses pembuatan kecap melibatkan pemanfaatan bioteknologi, dengan memanfaatkan kapang Aspergillus oryzae, Aspergillus sojae, Aspergillus wenti, Rhizophus olygosporus. Proses pembuatan kecap cukup lama, proses fermentasi dengan kapan kurang lebih berlangsung 2-3 hari, sedangkan proses fermentasi selanjutnya dalam larutan garam 25% kurang lebih 3-6 bulanan. Proses fermentasi yang cukup lama bertujuan untuk menghasilkan cita rasa yang nikmat dan aroma yang lebih menarik.
Proses pembuatan kecap adala sebagai berikut:
1.       sortasi kedelai
2.       perendaman kedelai 3-5 jam
3.       perebusan atau pengukusana
4.       penirisan
5.       inokulasi dengan Kapang
6.       fermentasi 2-3 hari
7.       Fermentasi dengan larutan garam 25% selama 3 bulanan
8.       Pemasakan dengan bumbu-bumbu yang dihaluskan (garam, bawang putih, lengkuas, salam, sereh, dll) dan tambahkan gula merah dengan kualitas baik, diaduk hingga mengental.
9.       penyaringan dan pengemasan.

Demikian proses pembuatan kecap manis secara sederhana, semoga bermanfaat.

Wednesday, February 14, 2018

Budidaya Kerapu








Ikan Kerapu (Epinephelus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang pasar cukup menjanjikan baik domestik maupun pasar internasional. Hargannya cukup mahal dan permintaan cukup tinggi, sehingga banyak pebinis mulai banyak yang melirik bisnis budidaya ikan kerapu. Ikan kerapu merupakan jenis ikan yang hidup di air laut. Namun, beberapa pembudidaya dapat berhasil membudidayakannya di darat dengan teknologi bagaimana menjadikan air tawar menjadi seperti air laut. Ikan kerapu memiliki pertumbuhan cepat dan dapat di produksi masal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup. Cara membudidayakan ikan kerapu merupakan teknik yang harus dipelajari terlebih dahulu sebelum terjun ki bisnis ini.
Sebelum kita mulai membudidayakn ikan kerapu harus kita ketahui dahulu metode yang digunakan dalam budidaya ini adalah manipulasi lingkungan untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metode manipulasi lingkungan di bak yang terkontrol. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkunan ini telah dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor lingkungan seperti; suhu, kadar garam, kedalaman air dan masih banyak faktor yang mendukung. dalam pemijahan ikan kerapu ini mengikuti fase perederan bulan pada saat bulan terang atau bulan gelap.

1. Pemilihan Induk Ikan kerapu
Induk ikan kerapu yang di pijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7,5 - 10 kg/m 3. pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. diluar pemijahan ikan, takaran pakan yang diberikan sebesar 3-5% dari total berat badan ikan per hari. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1% disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10-15 mg per ekor dalam seminggu.
2. Pemijahan Ikan Kerapu
Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan salinitas + 32 . Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke posisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin di suntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan adalah : HGG 1.000 - 2.000 IU/kg induk  Puberogen 150 - 225 RU/kg induk Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.00 - 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni -September dan bulan Nopember - Januari. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.

3. Penetasan Telur Ikan Kerapu
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m . Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28C. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 - 60 butir/liter air media. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 -100.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28C dan kadar garam 30 - 32 .
 4. Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu
Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10 - 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 - 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari. Skema jenis dan pemberian pakan larve kerapu dapat dilihat pada Gambar 3. Pemberian pakan dengan cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat metamorfosa larva sempurna menjadi benih ikan kerapu.
5. Perkembangan Larva Ikan Kerapu
Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang dan gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.
Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8) memasuki umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan bentuk tubuh yang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20) larva berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari larva baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak terkendali kemudian terbalik lalu mati. Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada larva kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik dan kelangsungan hidup larva.
6. Pengolahan Kualitas Air
Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva perlu dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan kepadatan 5.10 3 - 10 4 sel/ml. Phytoplankton akan meminimalisir pembusukkan yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 - 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak. Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40.

Demikianlah sekilas ulasan tentang cara budidaya ikan kerapu. Semoga bermanfaat.

Peluang Bisnis Tempe Kedele







Jual Ragi Tempe
Telp.
087731375234

Tempe adalah salah satu produk olahan kedele yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Tempe sudah menjadi produk makanan  dikenal hingga manca Negara. Di Indonesia, tempe sudah menjadi kebutuhan pokok karena menjadi sumber pemenuhan gizi yang murah terjangkau. Selain cita rasa-nya yang nikmat, tempe memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama kadar proteinnya sehingga tempe dapat menjadi menu alternatif untuk mengganti kebutuhan protein berasal dari daging yang harganya lebih mahal. Potensi pasar produk tempe dalam negeri cukup besar dan luas, bahkan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor penyebab tingginya konsumsi tempe di Indonesia antara lain adalah karena produksi daging dalam negeri yang masih rendah sehingga masih harus mengimpor dari negara lain.
Di Indonesia, selain menggunakan kedelai, tempe juga dapat diproduksi dengan menggunakan bahan baku seperti ampas tahu, jagung, benguk, dan lain-lain. Namun tempe lebih umum dan lebih disukai dari bahan baku kedelai. Tempe dengan menggunakan bahan baku kedelai memiliki cita rasa yang lebih nikmat dan gizi yang tinggi. Di Indonesia, produksi tempe umumnya masih menggunakan bahan baku kedelai transgenik dan sistem pertanian yang masih menggunakan bahan-bahan kimia. Kedelai transgenik lebih disukai oleh para pengrajin tempe karena memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih seragam sehingga kualitas tempe yang dihasilkan lebih bagus dan lebih ekonomis dibandingkan kedelai lokal. Produksi bahan baku kedelai dalam negeri yang masih rendah dan kualitasnya juga kurang baik, menyebabkan sebagian besar bahan baku kedelai masih impor dari negara lain. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan produksi kedelai dan meningkatkan kualitas kedelai dengan mengembangkan rekayasa genetika dan sistem pertanian organik sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mampu menembus pasar internasional yang lebih luas.
Industri tempe adalah jenis usaha yang umumnya merupakan industri rumahan dengan investasi tidak terlalu besar dan jumlah karyawan sedikit. Namun, industri tempe telah banyak menjadi sumber penghidupan bagi rakyat kecil dan memenuhi kebutuhan produk pangan bergizi tinggi dan terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk nasional yang terus meningkat, menunjukan bahwa potensi pasar produk tempe semakin besar dan merupakan peluang untuk mengembangankan bisnis tempe.
            Untuk memproduksi tempe dibutuhakn alat dan bahan sebagai berikut:

a. Bahan Pembuatan Tempe:
1. Kedelai Putih 10 Kg
2. Bibit tempe/Ragi Tempe 10gr
3. Air bersih

b. Alat-alat Pembuatan Tempe:
1. Panci
2. Kompor
3. Tampah 2 buah
4. Ember Plastik
5. Plastik Pembungkus
6. Kertas dan daun pisang

c. Proses Pembuatan Tempe Kedelai :
1. Sortasi kedelai dari bahan-bahan yang tidak berguna seperti daun, batang, pasir dan lain-lain.
2.Rendam kedelai 5-8 jam, dan buang airnya.
3.Rebus kedelai hingga mendidih, buang airnya.
4. diremas-remas untuk menghilangkan kulitnya dan agar kedelai terbelah, namun tidak hancur., sambil dicuci dengan air yang mengalir untuk menghilangkan lendirnya. Proses ini dapat dilakuakan dengan menggunakan mesin atau secara manual.
5. Kedelai yang telah dicuci bersih tersebut, kemudian dikukus hingga tanak.
6. Tiriskan, setelah dingin lakukan inokulasi dengan ragi tempe (Rhyzopus oryzae), aduk hingga rata.
7. Pengemasan dengan menggunakan plastik, atau daun pisang. Jika menggunakan kemasan plastik, berikan rongga udara dengan mencoblosi  permukaan kemasan plastik secara merata dengan menggunakan batang bambu ukuran o, 1 cm yang diruncingkan
8. Pemeraman dengan menggunakan rak selama kurang lebih 2 hari.
9. Pemanenan


Tuesday, February 13, 2018

Peluang Bisnis Mengolah Singkong Menjadi Nata De Cassava








Jual Starter Nata (Acetobacter xylinum)
Telp. 087731375234


Nata de cassava adalah salah satu produk nata berbahan baku singkong. Nata de cassava secara tampilan mirip dengan nata de coco yaitu berbentuk jel, warna putih, kenyal, berserat tinggi. Nata de cassava lebih lunak tidak alot, dan aroma nya tidak terlalu menyengat dibanding dengan nata de coco-nata berbahan baku air kelapa. Nata merupakan bahan baku produk minuman kemasan yang sudah sangat popular dan banyak disukai kalangan. Saat ini kebutuhan air kelapa untuk industi nata de coco semakin bersaing, seiring dengan tingginya permintaan nata de coco. Ketersediaa bahan baku singkong yang melimpah menjadi keunggulan tersendiri pengembangan industry nata de cassava sebagai subtitusi nata de coco. Urutan proses pembutan nata de cassava adalah sebagai berikut:
1. Pengupasan
Singkong yang telah ditimbang, kemudian dikupas dengan menggunakan pisau. Kemudian singkong yang telah dikupas ditampung dalam ember yang berisi air agar tidak terjadi penambahan asam sianida yang menyebabkan warna singkong menjadi biru dan berasa pahit.
2. Pencucian
Singkong yang telah dikupas, kemudian dicuci hingga bersih dengan menggunakan air yang mengalir.
3. Pemarutan
Proses pemarutan dilakukan dengan menggunakan mesin pemarut. Proses pemarutan dengan menggunakan mesin pemarut lebih efesien dan lebih cepat.
4.Pengenceran
Singkong yang telah diparut kemudian diencerkan dengan penambahan air bersih kurang lebih 50 liter per 5 Kg umbi singkong yang telah dikupas. Air yang digunakan untuk pengenceran harus dengan menggunakan air yang bebas dari bahan kimia seperti kaporit atau tercemar bahan kimia lainnya.
5. Perebusan I
Tambahkan enzim αlfa-amilasi sebanyak 10-15 ml. Kemudian lakukan pengadukan sampai merata. Setelah mendidih, larutan diangkat kemudian pada saat proses pendinginan mencapai suhu kurang lebih 60-65˚C ditambahkan enzim gluco-amylase sebanyak 10-15 ml, biarkan sampai dingin kurang lebih 2-3 hari.
6.Penyaringan
Setelah larutan menjadi dingin lakukan penyaringan dan pemerasan/pengepresan dengan menggunakan kain atau menggunakan alat pengepres mekanik.
7.Perebusan II
Larutan sebanyak 50 liter yang telah disaring dan dipisahkan ampasnya, kemudian direbus lagi. Kemudian tambahkan asam asetat sebanyak 200 ml. Setelah mendidih tambahkan ZA (ammonium sulfat) sebanyak 150 gram.
8.Fermentasi / inkubasi
Siapkan nampan bersih, tutup koran dengan diikat karet ban secara melingkar pada bagian tepi nampan, lalu susun pada rak. Jika media larutan singkong telah mendidih, kemudian buka salah satu bagian ujung nampan, tuangkan larutan dalam keadaan mendidih ke dalam nampan kemudian ditutup kembali dan diikat dengan tali karet ban, disusun tumpuk bersilangan hingga 6-8 nampan di rak. Setelah dingin, kemudian diinokulasi dengan penambahan bibit Acetobacter xylinum sebanyak 10 % atau kurang lebih 100-120 ml, biarkan hingga 8-10 hari.


Monday, February 5, 2018

Jual Formula Bio-Mocaf








Telp. 087731375234

Spesifikasi:
Volume 1 liter per botol
Kemasan botol plastik
Bahan organik berupa cairan
Mengandung culture mikroba probiotik
Penyimpanan di suhu kamar

Cara pembuatan tepung mocaf:
1. Kupas singkong
2. Cuci singkong
3. Potong-potong singkong menjadi bentuk chips dengan mesin atau manual
4. Rendam dalam air, tambahkan formula Bio-Mocaf
5. Inkubasi selama 2-3 hari
6. Pencucian, dan penirisan
7. Pengeringan dengan mesin atau dijemur matahari
8. Penepungan
9. Pengemasan





Wednesday, January 3, 2018

Mengolah Singkong Menjadi Glukosa



Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase
Telp. 087731375234 


Indonesia adalah salah satu negara penghasil singkong yang cukup besar di dunia. Indonesia memiliki berbagai macam varietas jenis singkong dengan kualitas yang cukup bagus. Singkong telah banyak diolah menjadi berbagai macam produk diantaranya adalah; tapioka, mocaf, nata de cassava, bioetanol, gula cair (glukosa), pakan ternak, aneka makanan camilan. Produksi singkong hampir tersebar di seluruh Indonesia. Potensi komoditas singkong sebagai bahan baku industri harus terus dikembangkan. Penemuan teknologi proses mengolah singkong menjadi gula cair berupa glukosa merupakan peluang bisnis yang menjanjikan, serta akan mengurangi ketergantungan gula impor. Gula merupakan salah satu kebutuhan mendasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri yang terus berkembang. Permintaan gula semakin meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan produksi gula yang umumnya didominasi gula tebu, produktifitasnya semakin menurun. Sehingga perlu dicarikan alternatif gula subtitusi yang ketersediaan bahan baku nya melimpah dan efesien.
Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut jugadekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO).
Secara umum, proses pembuatan gula cair  terdiri atas dua tahap yaitu: tahap likuifikasi dan sakarifikasi dengan menggunakan enzim. Likuifikasi merupakan pemecahan pati menjadi dekstrin dengan bantuan enzim alfa-amilase.Sedangkan sakarifikasi berupa penguraian dekstrin menjadi glukosa dengan enzim amiloglukosidase.Pada tahap likuifikasi, tapioka dicampur air dengan perbandingantiga liter air 1 Kg tapioka, sambil diaduk rata tambahkan1 ml enzim alfa-amilase per kg pati tapioka, panaskan pada suhu 95-105 oC. Tingkat keasaman larutan juga dipertahankan pada pH 6,0-6,5.
Proses selanjutnya adalah sakarifikasi yang berlangsung selama 76 jam yaitu dengan mendinginkan media larutan hingga suhu 60oC, kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Arang aktif mampu mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam gula cair.Selain itu arang aktif berfungsi menghentikan aktivitas enzim.Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan gula cair dengan karbon aktif dan endapan kotoran. Penyaringan bertujuan menghasilkan gula cair dengan tingkat kejernihan 93%.Bila belum tercapai, ulangi kembali penyaringan.
Tahap terakhir adalah evaporasi.Produsen memasukkan gula cair yang telah melewati tabung penukar ion itu ke dalam evaporator untuk meningkatkan kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Indikasi evaporasi selesai ketika gula cair berhenti menetes dari pipa evaporator. Dengan pemurnian itu kadar kemanisan gula cair meningkat, semula 30-36o briks menjadi 60-80o briks.
Tahapan Proses Membuat Gula Cair Bahan Baku Singkong
1.      Larutkan tepung tapioka dalam air dengan perbandingan 1 : 3.
2.      Panaskan pada suhu 95-105oC dan tambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati sembari diaduk rata.
3.      Setelah mendidih, turunkansuhu larutan hingga bersuhu 60oC. Kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Diamkan larutan selama 76 jam hingga menjadi cairan gula.
4.      Tambahkan 0,5-1% arang aktif per kg pati ke dalam gula cair untuk mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan pati, serta menghentikan aktivitas enzim.
5.      Lakukan penyaringan larutan untuk memisahkan gula cair dari karbon aktif dan kotoran sehingga tingkat kejernihan gula 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.
6.      Alirkan gula cair melalui tabung berisi penukar ion untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran dalam gula cair. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masing-masing berisi resin kation, kation, dan campuran anion dan kation.
7.      Evaporasi gula ke dalam evaporator untuk meningkatkan kadar gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC.

 



Posting Lama ►

Total Pageviews

Jual Aneka Media Mikroba Dan Jasa Uji Lab

AGROTEKNO-LAB

AGROTEKNO-LAB
Jual Aneka Jenis Mikrobia Untuk Industri Dan Penelitian

Aspergillus niger

Aspergillus niger
Untuk fermentasi pakan ternak

agrotekno77@gmail.com

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget
There was an error in this gadget
 

Copyright © 2012. MITRA AGROBISNIS DAN AGROINDUSTRI. Telp. 087731375234 - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz