Wednesday, June 12, 2013

Mengolah Limbah Menjadi Pakan Ternak



Sektor wirausaha (entepreunership) memiliki peran sangat penting untuk menopang perekonomian nasional dan kemandirian bangsa. Di negara-negara maju jumlah entepreuner mencapai 7-11 %, sedangkan di Indonesia baru berkisar 2 %. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah yang bisa kita kelola dengan baik untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, kenapa kita masih banyak impor kedelai, jagung, beras, pakan ternak, pupuk, obat-obatan pertanian, dan lain-lain dari negara lain. Dari dulu kita gembor-gembor swasembada pangan, ketahanan pangan!!….Tapi kok masih kayak gini, masih banyak sumber daya alam dan SDM yang menganggur, harga-harga kebutuhan pokok masih sering fluktuatif, dan masih banyak masyarakat yang belum sejahtera...oleh karena itu penting sekali bahwasanya sektor wirausaha harus digenjot. Kita perlu menumbuhkan kesadaran atau kecintaan masyarakat kepada dunia wirausaha. Oleh karena itu pentingnya dukungan pemerintah, pengembangan riset dan teknologi, dan program pelatihan-pelatihan.

Agrobisnis adalah salah satu sektor ekonomi yang memiliki prospek sangat bagus untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki pangsa pasar yang luas baik domestik maupun luar negeri. Usaha peternakan adalah satu sector agrobisnis yang memiliki peran sangat penting dikembangkan guna memenuhi kebutuhan gizi bagi masyarakat. Di Indonesia peternakan unggas dan hewan ruminansia seperti sapi atau kambing mulai berekembang cukup pesat. Hal ini disebabkan kebutuhan bahan pangan sumber protein meningkat tajam seiring dengan meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, kesadaran masyarakat pentingnya gizi dan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan adalah ketersedian pakan dalam jumlah yang cukup dan memenuhi gizi yang berkualitas. Kebutuhan pakan merupakan variable biaya yang member andil 70% dari biaya pemeliharaan secara keseluruhan. Ketergantungan peternak kepada pakan pabrikan yang mahal menjadi salah satu masalah yang perlu mendapat solusi agar para peternak menadapat laba yang lebih optimal. Oleh karena itu, para peternak perlu memanipulasi pakan secara efektif dan efesien dengan mengembangkan pakan alternatif.

Hewan ternak sangat membutuhkan pakan yang memiliki kadar protein tinggi. Tuntutan akan kebutuhan pakan dengan kandungan protein tinggi semakin meningkat. Saat ini, Indonesia masih harus mengimpor pakan berkualitas baik dari negara lain. Oleh sebab itu, pengembangan pakan ternak perlu dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada di sekitar kita seperti onggok singkong, bungkil kelapa, bungkil kedelai, bekatul atau dedak, dan lain-lain. Kandungan gizi bahan-bahan tersebut cukup tinggi, dan kita dapat meningkatkan kandungan gizinya dengan melakukan fermentasi dengan memanfaatkan mikroba fermenter. Salah satu bahan yang cukup melimpah yang dimiliki oleh Indonesia adalah singkong atau ubi kayu.

Umbi singkong dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan pati, tapi kadar proteinnya rendah berkisar (1-3%). Peningkatan kadar protein singkong dapat dilakukan dengan proses fermentasi dengan kapang Aspergillus niger. Umbi singkong memenuhi kriteria sebagai bahan pakan ternak karena harganya yang relatif murah, mudah didapatkan, dan kandungan patinya tinggi sehingga dapat digunakan sebagai karbohidrat terlarut. Peningkatan kandungan protein pada singkong dapat menjadikan singkong sebagai sumber pakan ternak dengan kualitas yang baik. Umbi singkong yang telah difermentasikan dengan menggunakan kapang A. niger dikenal sebagai Cassapro (cassava protein).

Cassapro dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada pakan ternak. Penambahan cassapro juga dapat meningkatkan daya cerna ternak terhadap pakan. Hal tersebut disebabkan karena Aspergillus niger mampun menghasilkan enzim-enzim pencernaan seperti selulase, amilase, protease, fitase, dan mananase yang dapat membantu mencerna pakan ternak. Kadar protein pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada 0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fermentasi singkong dengan menggunakan Aspergillus niger dapat meningkatkan kadar protein menjadi 100 %. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat memacu pertumbuhan hewan ternak.



Rating: 4.5 out of 5

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►

Total Pageviews

Jual Aneka Media Mikroba Dan Jasa Uji Lab

AGROTEKNO-LAB

AGROTEKNO-LAB
Jual Aneka Jenis Mikrobia Untuk Industri Dan Penelitian

Aspergillus niger

Aspergillus niger
Untuk fermentasi pakan ternak

agrotekno77@gmail.com

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget
There was an error in this gadget
 

Copyright © 2012. MITRA AGROBISNIS DAN AGROINDUSTRI. Telp. 087731375234 - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz